Radar Jember - Selaras Klungkung lahir dari kesadaran kolektif warga yang ingin bergerak bersama.
Langkah kecil dijalankan dengan hati yang sama. Nilai keseimbangan menjadi arah yang terus dijaga.
Desa pun tumbuh perlahan, namun tetap setia pada alam, budaya, dan doa.
Bagi warga, Selaras Klungkung bukan sekadar jenama. Ia adalah cara hidup yang mereka yakini sejak lama.
Keseimbangan antara manusia, alam, adat, dan spiritualitas menjadi pedoman sehari-hari.
Pembangunan pariwisata pun lahir dari prinsip itu. Tidak tergesa. Tidak terputus dari akar nilai.
Tentu, pariwisata tidak selalu dimulai dari proyek besar. Ia tumbuh dari gerakan yang hidup dan dijalankan bersama.
Petani, santri, pemuda, seniman, hingga ibu-ibu desa ambil bagian.
Mereka ingin identitas desa tetap kuat. Mereka ingin ekonomi, budaya, dan spiritualitas bergerak seirama membangun pariwisata desa.
“Gerakan ini tumbuh dari kebersamaan,” kata Muhammad Subri, Direktur Selaras Klungkung Management.
Selaras Klungkung dibangun di atas lima pilar keberlanjutan yang mengalir bagai syair.
Pilar pertama adalah keberlanjutan ekologis. Itu seperti gerakan membersihkan sungai, penanaman pohon, hingga edukasi spiritual tentang menjaga alam agar tetap teduh.
Pilar kedua adalah keberlanjutan sosial-budaya.
Peran pesantren, seniman, pemuda, dan ibu-ibu desa bergerak bersama menghidupkan tradisi seperti doa sungai dan seduhan kopi yang menyatukan cerita.
“Semua bergerak sesuai peran, tapi tujuannya tetap sama,” ujar Subri.
Pilar ketiga, lanjutnya, adalah keberlanjutan ekonomi: UMKM kopi, tape, dan kuliner lokal diberi ruang agar tumbuh tanpa kehilangan rasa asalnya.
Keempat, keberlanjutan spiritual dan wellness, menghadirkan meditasi di alam, forest bathing, water healing, serta pesantren sebagai sumber nilai; memadukan tenang dan syukur dalam setiap aktivitas wisata.
"Terakhir, keberlanjutan kelembagaan kami tindaklanjuti melalui pembentukan Selaras Manajemen sebagai Destination Management Organization (DMO), penyusunan kalender tahunan desa, dan kolaborasi pentahelix," katanya.
Warga Klungkung tahu, perubahan tak harus menunggu bantuan besar.
Mereka mulai dari yang paling dekat: air yang terus mengalir, pohon yang tumbuh, tradisi yang diwariskan, dan rasa yang dititipkan pada produk lokal.
Semua dilakukan agar pariwisata yang nantinya tumbuh tidak melukai alam, tidak menggeser budaya, dan tidak meninggalkan nilai spiritual desa.
Jalan menuju desa wisata berkelanjutan mungkin masih panjang, tetapi pijakan pertama Klungkung sudah kokoh dan penuh optimisme.
Mereka membangun masa depan dari ketulusan, dari menjaga sungai hingga merawat tradisi, dari menguatkan ekonomi hingga memperdalam spiritualitas diri.
Ada harapan yang tumbuh lebih segar, tekad yang menguat setiap hari, dan langkah yang makin mantap.
“Mari kita jaga desa ini dengan hati, kita bangun masa depan Klungkung dengan keseimbangan dan kebersamaan,” pungkasnya. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh