Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tanpa Proyek Megah, Desa Klungkung Bangun Branding Wisata ‘Selaras’ dari Kolaborasi Warga dan Pesantren

Sidkin • Kamis, 11 Desember 2025 | 13:40 WIB
JENAMA BARU: Launching Selaras Klungkung yang menjadi branding desa wisata di Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, beberapa hari lalu.
JENAMA BARU: Launching Selaras Klungkung yang menjadi branding desa wisata di Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, beberapa hari lalu.

Radar Jember - DI perbukitan Sukorambi, warga merangkai langkah dalam satu visi.

Dari ruang-ruang sederhana lahir Selaras Klungkung, jenama baru yang tumbuh dari kolaborasi.

Alam, budaya, dan kehidupan sehari-hari menyatu rapi, menuntun kesadaran kolektif warga desa dalam harmoni.

Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, berada di kawasan perbukitan subur dengan lanskap perkebunan, sungai alami, dan udara pegunungan yang sejuk.

Ini menjadikannya wilayah potensial untuk pengembangan wisata berbasis alam dan budaya.

Desa ini tengah menata ulang cara mereka memperkenalkan rumah sendiri.

Tak ada gegap gempita proyek besar, tak ada deretan anggaran fantastis yang diumumkan dengan megah.

Yang bergerak justru tekad warga untuk membuktikan bahwa desa bisa tumbuh dengan kekuatan kolaborasi.

Dari pesantren sampai kebun kopi, semuanya melebur dalam satu napas yang sama: berjalan selaras.

Branding wisata baru yang mereka luncurkan, Selaras Klungkung, bukan lahir karena instruksi dari atas, melainkan keinginan warga untuk memiliki identitas yang utuh.

Di kantor desa dan rumah-rumah warga, mereka duduk berdampingan.

Berbagi cerita, lalu merumuskan langkah ke depan. Di ruang yang penuh keakraban itu, perjalanan baru dimulai.

Sebuah perjalanan yang menempatkan alam, adat, dan kehidupan sehari-hari sebagai pijakannya.

Konsep ini tumbuh pelan namun kuat, dirajut dari berbagai unsur masyarakat.

Pemerintah desa, pesantren, UMKM, komunitas pemuda, hingga akademisi ikut membentuk satu benang merah.

Mereka tidak menunggu bantuan besar, mereka bergerak karena percaya desa bisa mandiri.

“Selaras Klungkung bukan sekadar slogan, tetapi gerakan yang lahir dari kebersamaan,” ujar Direktur Selaras Klungkung Management Muhammad Subri, pekan lalu.

Filosofi “selaras” bukan sekadar hiasan kata, tetapi panduan hidup yang warga yakini sejak lama.

Keseimbangan antara manusia, alam, adat, dan spiritualitas menjadi kompas yang menuntun arah pembangunan pariwisata desa.

Narasi besar yang mereka usung terdengar sederhana, namun terasa dalam: “Hidup yang selaras adalah ketika manusia, alam, dan budaya berjalan seirama.”

Subri mengatakan, dalam perjalanan membentuk identitas ini, banyak pihak turun tangan tanpa diminta.

Pesantren membuka ruang dialog, UMKM membawa produk yang menjadi kebanggaan desa, sementara pemuda menghidupkan kembali tradisi lama.

"Mahasiswa dari Pascasarjana Pariwisata STIPRAM Ambarrukmo Yogyakarta juga turut membantu. Sehingga semua gagasan itu bisa dijalankan bersama," katanya.

Peluncuran Selaras Klungkung berlangsung hangat, khas desa yang memegang erat nilai kebersamaan.

Mereka memulai dengan seduhan kopi pagi, dilanjutkan lantunan hadrah dan salawat yang membuat suasana semakin khidmat.

Penandatangan kerja sama dengan berbagai asosiasi wisata berlangsung tanpa upacara berlebihan.

Sementara aroma kopi tape memenuhi workshop Meracik Rasa Klungkung yang menjadi penutup agenda.

Langkah Klungkung menuju desa wisata berkelanjutan masih panjang. Namun pijakan pertama itu penuh optimisme.

Mereka membangun pariwisata dari hal yang paling dekat: menjaga sungai, merawat tradisi, menghidupkan ekonomi lokal, dan memperkuat spiritualitas.

“Mari kita jaga desa ini dengan hati, kita bangun masa depan Klungkung dengan keseimbangan dan kebersamaan," ujarnya. Bersambung. (kin/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #klungkung #desa wisata #potensi desa #SUKORAMBI