Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Era AI di Kampus: Pakar Teknologi Tekankan Pentingnya Transparansi dan Integritas Akademik Mahasiswa

M Adhi Surya • Kamis, 11 Desember 2025 | 14:20 WIB
EDUKASI : Pakar teknologi dan riset kecerdasan buatan, Dr Eng Ir Sunu Wibirama memberi wawasan tentang akal imitasi (AI).
EDUKASI : Pakar teknologi dan riset kecerdasan buatan, Dr Eng Ir Sunu Wibirama memberi wawasan tentang akal imitasi (AI).

Radar JemberGenerative Artificial Intelligence (GenAI) atau akal imitasi (AI) mulai menjadi bagian dari keseharian dunia pendidikan tinggi.

Bagi mahasiswa, teknologi ini membuka peluang besar untuk mempercepat proses belajar, menulis, dan meneliti.

Namun, di balik kemudahannya, penggunaan GenAI juga menuntut kesadaran etis dan tanggung jawab akademik yang tinggi.

Salah satunya, fasilitas itu bukan hanya dijadikan sebagai sarana utama, namun hanya diperuntukkan membantu nalar kritis mahasiswa.

Pakar teknologi dan riset kecerdasan buatan, Dr Eng Ir Sunu Wibirama menilai, GenAI dapat membantu mahasiswa mengoptimalkan proses berpikir, selama digunakan dengan benar.

“AI seharusnya menjadi alat bantu yang memperkuat kemampuan analisis dan kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Mahasiswa harus tetap menjadi pengendali ide, bukan sekadar pengguna hasil mesin,” ujarnya.

Menurutnya, AI bisa membantu menyusun literature review, memperjelas struktur tulisan ilmiah, hingga memvisualisasikan data riset.

Namun, setiap hasil yang dihasilkan AI harus tetap diverifikasi dan dikaji ulang oleh mahasiswa agar tidak terjadi kesalahan logika maupun penyimpangan sumber.

“AI bisa mempercepat kerja intelektual, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan manusia,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan risiko yang sering terjadi ketika AI digunakan tanpa pemahaman etika.

Mulai dari potensi plagiarisme, penyalahgunaan data, hingga pelanggaran hak cipta.

Ia menilai pentingnya mahasiswa memahami batas antara inspirasi dan duplikasi.

“Gunakan AI untuk memperkaya wawasan, bukan menyalin ide. Integritas akademik tetap nomor satu,” katanya.

Ia mendorong mahasiswa agar selalu bersikap transparan dalam menggunakan teknologi tersebut.

Misalnya dengan mencantumkan peran AI dalam proses penyusunan tulisan atau riset.

Langkah itu, menurutnya, menjadi bagian dari tanggung jawab akademik yang harus dijaga di era digital.

“Keterbukaan adalah bentuk kejujuran ilmiah. Justru itu yang akan membedakan pengguna AI yang beretika dengan yang sekadar memanfaatkan teknologi,” tambahnya.

Ia menyebut, kemampuan mahasiswa dalam memadukan kecerdasan digital dengan nalar kritis akan menjadi modal penting di dunia profesional.

“Dunia kerja nanti menuntut orang yang bisa berpikir bersama mesin, bukan digantikan oleh mesin,” katanya. (dhi/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Unmuh Jember #kecerdasan buatan #ai #Artificial Intelligence (AI) #akal imitasi