Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

20 Tahun Keliling Jualan Es Krim, Lansia Difabel Terharu Saat Dagangannya Diborong Bupati Fawait di Balung

Maulana RJ • Rabu, 10 Desember 2025 | 13:40 WIB
HANGAT: Jailani, penjual es krim, disapa Bupati Fawait yang kemudian memborong dagangannya, dalam acara Guse Menyapa, Apel Sholawat Kebangsaan, di RTH Kecamatan Balung, Senin (8/12).
HANGAT: Jailani, penjual es krim, disapa Bupati Fawait yang kemudian memborong dagangannya, dalam acara Guse Menyapa, Apel Sholawat Kebangsaan, di RTH Kecamatan Balung, Senin (8/12).

Radar Jember - Keterbatasan fisik tak menghalangi Jailani menerabas terik panas matahari ataupun guyuran hujan.

Lansia ini rela saban hari berkawan dengan sepeda motor roda tiga yang telah lusuh, berkeliling belasan–mungkin juga puluhan–kilometer, demi menjemput rezeki.

Topi biru dan kemeja batik lengan panjang, membalut rapi di tubuh Jailani.

Sepeda motor roda tiga yang telah berumur, bukan saja kawan setianya menjemput rezeki, tapi itu juga satu-satunya penyangga kerapuhan tubuhnya.

Lansia difabel penjual es krim keliling ini sesekali terdiam memaku.

Memandangi setiap langkah orang-orang yang lewat tanpa membeli es krim dagangannya, di tengah-tengah acara Apel Sholawat Kebangsaan Bupati Jember Muhammad Fawait, bertajuk Guse Menyapa, di RTH Kecamatan Balung, Jember, Senin (8/12).

Penglihatannya yang sayup, ditambah dengan kulip hitam legam, cukup menjadi saksi kerja kerasnya berjualan es krim keliling dalam waktu yang cukup lama.

Seketika, penglihatannya terbelalak begitu mendapati Bupati Fawait menghampiri dagangannya.

"Sehat-sehat ya Pak, ini saya beli es krimnya, Rp 500 ribu, nanti buat ibu-ibu ini, masyarakat sini, dan teman-teman Satpol PP juga," kata Bupati Fawait kepada Jailani.

Begitu bupati bergeser melanjutkan giat Guse Menyapa di titik berikutnya, dan uang Rp 500 ribu mendarat di tangannya, Jailani tidak bisa menyembunyikan haru bahagianya.

Di sela-sela obrolan menyentuh itu, Jailani sempat mengutarakan rasa syukur dan terima kasihnya kepada orang nomor satu di Jember itu.

"Terima kasih. Haru rasanya, pertama kali langsung bertemu beliaunya (bupati)," katanya diselingi tangis haru bahagia, dengan nada terbata-bata.

Seketika, es krim dagangan Jailani dibagi-bagikan kepada warga saat itu.

Jailani sudah berjualan es krim keliling selama 20 tahun lamanya.

Ia kulakan es krim di Desa Kasiyan Puger, Jember, berjarak sekitar 12 kilometer dari rumahnya, di Dusun Tanjungsari, Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, Jember.

Dengan kondisinya yang penuh keterbatasan pada kedua kakinya, sehari-hari Jailani menempuh belasan kilometer menjajakan es krim dagangannya, dari satu tempat ke tempat lain.

Menggunakan sepeda motor butut roda tiga yang telah cukup berumur, ia berkeliling menjemput rejeki dengan pendapatan yang tidak menentu.

Dari sekolah, tempat hajatan rumahan, dan tempat-tempat keramaian seperti di RTH Kecamatan Balung.

"Keuntungannya tidak mesti, kadang sehari Rp 20 ribu, kadang Rp 30 ribu," katanya.

Di rumahnya, istri Jailani, namanya Rohima, juga tidak sedang dalam kondisi yang baik-baik saja.

Sang istri kondisinya hampir serupa, mengalami sakit pada bagian kakinya.

Sehingga hanya di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Keduanya hanya tinggal berdua, karena Jailani dan istri tidak memiliki anak, di usianya yang telah memasuki 50 tahun lebih.

Meski Jailani tidak memiliki anak, dagangan es krim yang paling banyak digemari anak-anak itu, seperti pintu rezeki sekaligus penyemangat bagi seorang pria yang merindukan kehadiran sang buah hati ini.

"Di rumah hanya ada istri, juga sedang sakit, jadi saya bekerja untuk menghidupi istri," tuturnya.

Jailani mengaku sempat mendapat bantuan dari pemerintah, berupa bantuan langsung tunai atau BLT.

Ia mulai dapat BLT di tahun ini. Namun bantuan itu seperti menjadi awal sekaligus yang terakhir.

Belum lama ini, ia mengaku mendapatkan kabar kurang mengenakkan.

Namanya tidak lagi tercatat sebagai penerima bantuan untuk tahun berikutnya.

Jailani tidak mengetahui pasti alasannya.

Katanya, namanya hanya tercatat untuk penerima bantuan di tahun ini saja.

"Kirangen mboten ngertos kulo, Mas. (Bahasa Jawa: Kurang paham, saya tidak tau, mas)," katanya, kepada Jawa Pos Radar Jember.

Jauh dalam benaknya, Jailani mengaku ada harapan besar kepada pemerintah agar kehidupan masyarakat seperti dirinya bisa mendapatkan perhatian lebih.

"Harapannya setelah ketemu bupati, semoga kehidupan masyarakat seperti saya bisa lebih diperhatikan," imbuh Jailani, penuh harap. (mau/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Guse Menyapa #Jember #Difabel #Gus Fawait