Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tembok Miring, Atap Nyaris Ambruk: 28 Siswa SD di Jember Terpaksa Belajar di Ruang Kelas yang Ditopang Bambu

Jumai RJ • Selasa, 9 Desember 2025 | 13:30 WIB

BERBAHAYA: Ruang kelas 1 SDN Gambiran 02, di Dusun Rowo II, Desa Gambiran, Kecamatan Kalisat, terpaksa dipasang dua penyangga dari bambu.
BERBAHAYA: Ruang kelas 1 SDN Gambiran 02, di Dusun Rowo II, Desa Gambiran, Kecamatan Kalisat, terpaksa dipasang dua penyangga dari bambu.

Radar Jember - Fasilitas pendidikan banyak yang diperbaiki. Namun, tak sedikit bangunan sekolah yang kondisinya masih rusak dan tidak layak pakai, seperti di ruang kelas 1 SDN Gambiran 02 ini.

Upaya pemerintah melakukan pembangunan atau disebut rehab gedung sekolah banyak dilakukan.

Seperti dilakukan pemerintah melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember.

Akan tetapi di lapangan, masih banyak sekolah yang rusak berat, sedang, dan rusak ringan.

Bahkan ruang kelas yang sebenarnya sudah tidak layak pakai, di beberapa sekolah terpaksa ditempati. Sebab, tak ada ruangan lagi.

Seperti yang terjadi di SDN Gambiran 02, Dusun Rowo II, Desa Gambiran, Kecamatan Kalisat.

Di sekolah ini, ada tiga ruang kelas yang tidak layak ditempati karena bangunan lama.

Di ruang kelas 1, temboknya sudah miring dan di ruang kelas tersebut ditopang atau dipasangi dua penyangga dari bambu.

Ruang siswa kelas 1 ini, setidaknya diberi penyangga dari bambu sudah dua tahun lebih. Sebab, bagian belandar sudah melengkung.

Kepala SDN Gambiran 02 Agus Purwanto menyampaikan, di sekolahnya ada tiga ruang kelas yang rusak.

“Tiga ruang kelas yang rusak itu mulai dari kelas 1, 2, dan 3. Kalau hujan bocor dan di teras juga bocor,” katanya.

Dia menambahkan, saat hujan, ruang kelas 4 yang pernah mendapatkan perbaikan tahun 2019 lalu saat ini juga sudah bocor.

"Yang dikhawatirkan ambruk tiga kelas karena bagian atapnya sudah melengkung. Yang paling parah melengkungnya ruang kelas 1, makanya dipasang dua penyangga bambu besar," kata Agus.

Menurutnya, pihak sekolah sudah sering mengirim proposal agar ada perbaikan, bahkan pernah dilakukan oleh kepala sekolah sebelumnya. 

Di SDN Gambiran 02 ini bangunannya merupakan bangunan lama.

Gentingnya masih biasa dan jendela di setiap ruang kelas masih menggunakan kawat.

“Jaring kawat sudah hancur, penyangga di masing-masing ruang kelas masih kayu dan sudah keropos,” jelasnya.

Agus menyebut, di ruang kelas 1 yang dipasang dua penyangga bambu itu ada 28 siswa.

Selain itu, dua kelas lain juga sudah tidak layak ditempati karena atapnya melengkung dan pernah mendapat perbaikan sejak 1976.

Pihak sekolah berharap agar Dinas Pendidikan Jember memprioritaskan rehab tiga ruang yang sudah rusak.

Itu cukup mendesak karena khawatir ambruk saat siswa mengikuti pembelajaran di ruang kelas.

“Tiga ruang kelas yang atapnya melengkung itu juga bersebelahan dengan ruangan guru,” kata pria yang sebelumnya menjadi Kepala SDN Sukoreno 03, Kecamatan Kalisat.

Dia pun menyebut siswa yang sekolah saat ini jumlahnya mencapai 160 anak.

Pada kesempatan yang sama, Dasuki, guru kelas 1, menyebut, saat hujan turun, ruang kelas bocor karena atapnya sudah melengkung.

“Agar ruang kelas tidak ambruk di pasang dua penyangga bamboo, di tengah dan di pinggir. Untuk tembok kondisinya sudah miring keluar,” katanya. Harapan agar sekolah segera diperbaiki juga dia sampaikan.

Sebagai informasi, Ketua DPRD Jember Ahmad Halim sempat menyampaikan, pemerintah pusat pada tahun 2026 nanti berencana akan melakukan perbaikan sekolah yang tersebar di Jember dengan dana Rp 270 miliar.

Meski demikian, belum diketahui secara pasti data sekolah mana saja yang menjadi sasaran perbaikan. (jum/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#renovasi sekolah #Jember #DPRD jember #sekolah rusak #Dispendik Jember