Radar Jember - Upaya mengurangi risiko bencana tidak hanya bertumpu pada pemerintah.
Palang Merah Indonesia (PMI) Jember bersama Japanese Red Cross Society (JRCS) ikut ambil bagian.
Melalui program Sekolah dan Masyarakat Tangguh Bencana, mereka aktif menjangkau wilayah rawan sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana atau Disaster Risk Reduction (DRR) berbasis komunitas.
Tahun ini, rangkaian evaluasi dan penguatan kapasitas menyasar kawasan pesisir Selatan Jember. Sejumlah desa dan sekolah di Kecamatan Puger dan Gumukmas jadi lokasi prioritas.
Kegiatan ini dimulai dengan pendampingan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger.
Ini sebagai lanjutan dari kampanye kesiapsiagaan yang telah dilakukan melalui metode door to door.
Pendekatan personal ini dinilai efektif menjangkau warga secara langsung.
“Pendampingan ini krusial untuk memastikan bahwa pesan-pesan kesiapsiagaan yang disampaikan oleh SIBAT benar-benar dipahami dan diterapkan oleh masyarakat. Total ada 765 KK di Puger Wetan telah diedukasi pengurangan risiko bencana dengan baik,” ujar Weni Catur Fitriani, Koordinator Lapang Proyek Sekolah dan Masyarakat Tangguh di Jember.
Dalam sesi diskusi, anggota SIBAT Puger Wetan menyampaikan berbagai pengalaman selama memberikan sosialisasi mitigasi bencana kepada warga.
Mereka mengunjungi rumah-rumah untuk mengenalkan potensi ancaman yang ada di wilayah pesisir, termasuk risiko tsunami yang kerap menjadi perhatian utama.
Selain sosialisasi kesiapsiagaan, mereka juga mencatat sejumlah kendala yang ditemui di lapangan.
Ini akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan efektivitas edukasi di tahap berikutnya.
Sementara saat kegiatan di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, pihaknya juga menyerahkan perlengkapan kesiapsiagaan kepada sekolah-sekolah mitra sebagai bagian dari penguatan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Paket peralatan tersebut diharapkan mampu mendukung kesiapsiagaan warga sekolah dalam menghadapi potensi ancaman yang mungkin terjadi.
Melalui bantuan berupa perlengkapan dan papan petunjuk evakuasi, PMI memastikan bahwa edukasi siaga bencana terintegrasi dengan sistem sekolah.
Warga sekolah didorong untuk memahami jalur evakuasi, titik kumpul, serta langkah-langkah darurat lainnya.
“Ini penting untuk menanamkan kebiasaan waspada sejak dini. Dengan adanya paket kesiapsiagaan dan papan petunjuk yang jelas, seluruh warga sekolah diharapkan lebih sigap dalam menghadapi potensi ancaman bencana,” pungkasnya. (kin/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh