Radar Jember - Dari tangan ibu rumah tangga di Dusun Klayu, Desa Mayang/Mayang, Kabupaten Jember, sebuah produk sederhana dari daun jati kering berhasil menggapai pasar internasional hingga ke Negeri Sakura, Jepang.
Di pabrik kecil bernama Global Bumi Putra, suasana hangat langsung menyambut tim Jawa Pos Radar Jember.
Senyum ramah para pekerja dan aroma kopi yang mengepul menjadi gambaran keseharian proses produksi pupuk organik bernilai ekspor tersebut.
Di antara tawa ringan para pekerja yang memilah dan mengayak daun jati, seorang pemuda tampak mengawasi alur produksi.
Dia adalah Yuan Ridho Hadi Putra, pengelola sekaligus generasi penerus usaha keluarga yang telah berdiri lebih dari dua dekade.
“Ini pupuk organik murni dari daun jati, Mas Pure,” ujarnya.
Pabrik ini memproduksi leaf mold, pupuk organik dari daun kering seperti jati, cokelat, dan mahoni.
Namun di Mayang, fokus utama mereka adalah daun jati menyesuaikan permintaan spesifik dari Jepang.
Negara tersebut membutuhkan jenis daun tertentu sebagai campuran media tanam dalam sistem pertanian tanah kering, yang berbeda dengan pola pertanian sawah di Indonesia.
Usaha ini tidak lahir di Mayang. Sebelumnya, pabrik beroperasi di Kranjingan, lalu pindah ke Suren, sebelum akhirnya menetap di Mayang sejak tahun 2021.
Di Suren, produksi bahkan pernah berjalan besar-besaran, mengolah mahoni, cokelat, dan jati dalam waktu bersamaan.
“Kalau mahoni dan cokelat masuk semua, gudang kita penuh. Dua kontainer aja sudah penuh,” ungkap Yuan sambil menunjuk bal-bal daun siap press,” ucapnya.
Menurut pria yang akrab disapa Yuan itu Jepang hanya menerima tiga jenis daun jati, cokelat, dan mahoni.
Di luar itu, tak ada yang masuk kriteria.
“Produk kayak gini nggak ada di Jepang. Mereka butuh daun kering untuk tanah kering, bukan tanah sawah seperti di sini,” ucapnya.
Pupuk berbahan daun jati ini banyak digunakan untuk tanaman hortikultura premium, seperti sayuran dan buah buahan.
Fungsinya terutama untuk menggemburkan media tanam dan menjaga kelembapan.
Bahan baku pupuk ini sangat sederhana: daun jati yang sudah jatuh alami, bukan yang dipetik.
Pengepul memasok daun tersebut dengan harga Rp 3.000-Rp 5.000 per karung.
Setelah melalui proses pengeringan, pencacahan, pengayakan, pembersihan, kemudian dipres, daun-daun itu berubah menjadi pupuk siap kirim.
Untuk produk kasar, tiap pack berbobot 10–12 kilogram dengan nilai 5-6 dolar.
Saat ini, Global Bumi Putra menghasilkan dua jenis produk yaitu leaf mold kasar teak leaf mold halus.
Sebagian produksi kini dibeli industri di Surabaya untuk diekspor ulang.
Meski begitu, Yuan mengaku tengah berupaya membuka kembali jalur ekspor langsung ke Jepang seperti era awal usaha keluarga ini berdiri.
Di balik proses produksi yang padat, ada cerita humanis yang menjadi kekuatan pabrik ini.
Banyak ibu rumah tangga di dusun bekerja di tempat ini.
Suasana kerja berjalan akrab, penuh canda, dan sesekali diselingi suguhan kopi bagi tamu yang datang.
“Ibu-ibu di sini asik, Mas. Kerjanya sambil senyum, sambil cerita,” kata pekerja yang akrab disapa Aldi tersebut.
Tak hanya ibu-ibu, anak-anak muda desa juga ikut terlibat dalam pengoperasian mesin, pencacahan, hingga tahap pengepakan.
Siapa sangka, dari sebuah dusun kecil di Jember, daun-daun jati yang gugur di tanah bisa menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar pertanian modern Jepang.
Di balik setiap bal pupuk yang dikirim, tersimpan kerja keras ibu-ibu desa, semangat anak muda, serta ketekunan keluarga yang mempertahankan warisan usaha selama puluhan tahun.
Pabrik sederhana yang dipenuhi tawa dan aroma kopi itu ternyata menyimpan kisah besar bahwa daun yang jatuh di tanah Jember mampu terbang jauh hingga Negeri Sakura. (mg/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh