Radar Jember – Kota Suwar-Suwir disebut sebagai daerah dengan mahasiswa disabilitas terbanyak bahkan di tingkat nasional.
Kondisi tersebut mendorong perlunya penguatan ekosistem kampus inklusif agar mahasiswa dengan kebutuhan khusus dapat memperoleh layanan pendidikan yang setara.
Ketua Perpenca Jember M. Zainuri Rofii menegaskan, dengan jumlah mahasiswa disabilitas yang besar, Jember selayaknya menjadi patron atau rujukan nasional bagi kampus ramah disabilitas.
Menurutnya, sejumlah kampus seperti Universitas PGRI Argopuro (Unipar), Universitas Jember (Unej), hingga UIN KHAS Jember memiliki peluang besar membangun standar layanan inklusi yang komprehensif.
Ia menambahkan, peluang tersebut harus diimbangi dengan pembenahan berkelanjutan.
Menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama, mulai penyediaan fasilitas studi hingga pendampingan akademik.
“Kami harus memastikan bahwa kampus-kampus ini tidak hanya menerima mahasiswa disabilitas, tetapi juga menyiapkan dukungan yang memadai,” ujarnya.
Hal selaras juga disampaikan Dosen Prodi Pendidikan Sejarah Unipar, Rina Rohmawati, saat kunjungan dan berdiskusi di Kantor Jawa Pos Radar Jember.
Ia menyebut kampusnya memiliki jumlah mahasiswa disabilitas yang cukup banyak, bahkan disebut-sebut terbanyak secara nasional.
Kondisi ini, menurutnya, menjadi dorongan bagi kampus untuk terus berbenah.
Ia menjelaskan, masih banyak aspek yang perlu diperbarui, khususnya fasilitas penunjang perkuliahan.
Di Prodi Pendidikan Sejarah, kebutuhan buku bacaan sangat tinggi karena menjadi sumber utama pengetahuan sejarah.
“Namun, ketersediaan buku braille untuk mahasiswa disabilitas masih terbatas,” tuturnya.
Menurutnya, pemerintah juga perlu ambil peran dalam memberikan perhatian khusus agar mahasiswa disabilitas mendapatkan hak yang sama dalam akses literasi akademik.
“Mereka istimewa, maka fasilitas yang harus disiapkan juga perlu lebih istimewa,” ujarnya.
Ia berharap, dukungan lintas pihak mulai pemerintah, kampus, hingga organisasi masyarakat dapat mendorong lahirnya ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan di Jember.
Dengan demikian, mahasiswa disabilitas tidak hanya kuliah, tetapi juga berkembang dan berdaya secara penuh. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh