Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Lonjakan DBD di Jember Kian Mengkhawatirkan, dr Faida Ingatkan: Hari ke-4 Demam Bisa Sangat Kritis!

Yulio Faruq Akhmadi • Rabu, 3 Desember 2025 | 14:05 WIB
TANPA PENGHUNI: Kawasan perkotaan juga tidak luput dari perhatian DBD. Fogging menjadi salah satu langkah untuk menanggulangi DBD.
TANPA PENGHUNI: Kawasan perkotaan juga tidak luput dari perhatian DBD. Fogging menjadi salah satu langkah untuk menanggulangi DBD.

Radar Jember – Keterlambatan penanganan demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi penyebab utama kematian pasien.

Owner RS Bina Sehat Jember, dr Faida, menegaskan bahwa fase kritis DBD berlangsung cepat, sehingga penanganan sejak awal menjadi penentu keselamatan.

Menurut Faida, banyak pasien datang ke rumah sakit ketika kondisinya sudah berat.

Warga sering mengabaikan gejala demam tinggi di awal, dan baru mencari pertolongan saat keadaannya memburuk.

Baca Juga: PNM Cabang Jember Serahkan Langsung Bantuan Sembako hingga Obat-obatan Untuk Korban Erupsi Gunung Semeru di Lumajang

“Rumah sakit tempat rujukan, jadi pasien datang-datang sudah parah. Hari ke-4 atau 5 demam, itu bisa sangat kritis,” ujarnya.

Faida menambahkan, kasus DBD yang dirawat di RSBS juga menunjukkan tren yang harus diwaspadai.

Sejak 2021 hingga Oktober 2025 tercatat ada 1.272 pasien DBD yang dirawat di RSBS (selengkapnya lihat grafis).

 Faida menegaskan bahwa DBD bisa menyerang siapa saja, tanpa memandang usia.

Baik anak-anak maupun lansia berpotensi mengalami kondisi berat jika terlambat mendapat perawatan.

“Golongan darah tidak ada hubungannya dengan risiko. Semua bisa kena, dan semua bisa memburuk kalau terlambat ditangani,” tegasnya.

Ia mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami demam tinggi yang tidak kunjung turun. Pemeriksaan trombosit, pemantauan cairan, dan observasi ketat di fase awal sangat penting untuk mencegah komplikasi.

“Jangan tunggu parah. DBD ini bergeraknya cepat,” pungkasnya. (yul/dwi)

Sejak Dulu Sudah Ada DBD

Demam Berdarah Dengue atau DBD, yaitu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Awal kemunculannya pada abad 18 dikenal sebagai penyakit misterius dari  daerah tropis.

Dalam perang dunia ke II virus dengue (1943–1945) baru ditemukan.

Sementara DBD mulai masuk Indonesia sekitar tahun 1968 di dua daerah padat penduduk. Surabaya dan Jakarta.

- 1968: Kasus pertama di Jakarta dan Surabaya

- 1970–1980: Penyebaran ke kota-kota besar

- 1990-an: Muncul gerakan nasional PSN 3M (Menutup, Mengubur, Menguras)

- Hingga sekarang DBD masih menjadi penyakit endemik nasional dan belum ditemukan obatnya.

KASUS DBD JEMBER

Tahun                  Jumlah Kasus               Kematian

2019          988                      7

2020          945                      3

2021          447                      1

2022          787                      8

2023          561                      9

2024          1.627                   16

Pasien DBD yang dirawat di RSBS

Tahun 2021: 117 kasus

Tahun 2022: 54 kasus

Tahun 2023: 101 kasus

Tahun 2024: 737 kasus

Januari–Oktober 2025: 263 kasus

Diolah dari berbagai sumber

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #DBD #demam berdarah dengue #RS Bina Sehat #fogging