Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ekstraksi Ekstrem ala Jember: Mengungkap Cita Rasa Kopi lewat Seduhan ‘Psikopat’ DTPHP

M Adhi Surya • Rabu, 3 Desember 2025 | 13:50 WIB
PROSES PENYEDUHAN: Penyuluh Pertanian dan Perkebunan DTPHP menyiapkan seduhan Kopi Psikopat.
PROSES PENYEDUHAN: Penyuluh Pertanian dan Perkebunan DTPHP menyiapkan seduhan Kopi Psikopat.

Radar Jember - Seduhan yang akrab dijuluki kopi psikopat menjadi teknik ekstrem racikan DTPHP Jember untuk mengungkap karakter asli kopi.

Ini akan menghasilkan serum kopi super pekat yang mampu menampilkan identitas rasa setiap varietas.

Di ruang pelatihan DTPHP Jember, aroma kopi pekat menguar kuat.

Bukan sekadar seduhan harian, melainkan ekstraksi yang sengaja dibuat sangat kental untuk membaca karakter asli biji kopi.

Teknik ini dinamai Seduhan Sipekat alias kopi psikopat, karena tingkat kepadatannya dianggap di luar batas seduhan normal.

Rahnanto, penyuluh Pertanian dan Perkebunan DTPHP, sembari menyiapkan Vietnam drip, ia menjelaskan bahwa Seduhan Sipekat dikembangkan sebagai cara paling jujur untuk menilai karakter kopi.

“Semakin pekat seduhannya, semakin telanjang rasa yang keluar,” ujarnya.

Vietnam drip yang biasanya menghasilkan seduhan ringan, kali ini berubah fungsi.

Bubuk kopi dituangkan hingga hampir memenuhi dripper.

Lapisan kopi yang tebal itu membuat ekstraksi berjalan lambat, tetesan pertama yang turun tampak gelap dan kental, menghadirkan aroma tajam yang langsung menggambarkan identitas biji kopi.

“Inilah dasar mengapa metode ini disebut Psikopat saking ekstremnya konsentrasi rasa,” katanya.

Keunikan Seduhan Sipekat tidak hanya pada kepadatan ekstraksinya.

Rahnanto menjelaskan bahwa teknik roasting yang dipakai turut membedakannya, Tim penyuluh sengaja mempertahankan zat asam vitamin alami dalam kopi.

Roasting-nya kami atur agar unsur alaminya tidak hilang, supaya rasa kopi tetap hidup,” jelasnya.

Dengan roasting yang tidak terlalu gelap, aroma dan keasaman alami biji kopi lebih mudah terbaca.

Tidak ada rasa gosong yang menutupi karakter utama.

Setiap varian kopi baik arabika, robusta, maupun hibrida lokal memunculkan ciri masing-masing ketika diseduh dengan metode ini.

Seduhan Sipekat juga identik dengan penggunaan air dingin.

Berbanding terbalik dengan seduhan konvensional yang memakai air panas, metode ini menggunakan air dingin untuk memperlambat proses ekstraksi.

“Air dingin membuat hasilnya stabil dan tidak merusak lapisan rasa. Tetesan perlahan dari dripper menghasilkan ekstrak yang mirip sirup kopi.” kata Rahnanto.

Rasio kopi dan airnya pun ekstrem.

Jika seduhan normal memakai 6 gram bubuk untuk 100 mililiter air, seduhan sipekat memakai 20 gram bubuk untuk hanya 30 mililiter air.

Hasilnya adalah ekstrak superpekat bukan sekadar kopi, melainkan serum rasa yang memuat seluruh identitas biji kopi secara utuh.

Rahnanto menegaskan bahwa Seduhan Sipekat bukan diciptakan untuk sensasi semata.

Metode ini menjadi alat analisis yang efektif untuk melihat kekuatan rasa hasil panen petani.

Dari aroma, tingkat keasaman, hingga body kopi bisa terbaca dalam satu tetes.

“Dengan cara ini, karakter asli kopi lokal makin mudah dikenali,” tuturnya.

Dalam tangan para penyuluh, Seduhan Sipekat lahir sebagai metode yang bukan hanya ekstrem, tetapi presisi.

Dari drip dingin hingga menjadi serum kopi, teknik ini menunjukkan bahwa kopi Jember menyimpan kekayaan rasa yang dapat bersaing, sekaligus memperkuat hubungan antara proses pascapanen dan kualitas cita rasa dalam secangkir kopi. (dhi/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #DTPHP #Vietnam Drip #Kopi #seduhan kopi