Radar Jember - Zaman sekarang minat banyak orang condong ke tarian modern.
Akan tetapi, tari tradisional bukan berarti kalah pamor. Perlu sentuhan khusus, sehingga tetap eksis di dunia modern.
Kain merah marun yang melilit pinggang itu bergerak lembut setiap kali ia melangkah.
Selendang kuning yang menjuntai dari bahunya seakan mengikuti irama napas yang dikendalikan.
Dari ujung jemari hingga tatapan matanya, ada bahasa yang tidak terucap, tetapi bisa dirasakan, bahasa tubuh seorang penari yang sudah menyatu dengan gerakannya sejak kecil.
Rivana Keyla Khairani, dia mulai jatuh cinta pada dunia tari sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.
Saat teman-teman sebayanya masih sibuk bermain, ia justru menemukan ruang aman ketika berdiri di depan cermin, mencoba mengikuti gerakan yang diajarkan pelatihnya.
“Dalam tari, saya bisa mengekspresikan diri saya. Mau sedang sedih, senang, atau marah, semuanya bisa keluar,” katanya.
Pilihan tariannya pun tidak pernah jauh dari dua dunia yang ia kuasai, tradisional dan kontemporer.
Ia mengaku sudah terbiasa dengan tari tradisional sejak kecil, sehingga tubuhnya terasa lebih luwes ketika menampilkan gerak yang memiliki pakem.
Namun, ia juga tidak menutup diri pada eksplorasi.
Tradisional baginya adalah akar, sementara kontemporer adalah ruang bernapas.
Di tengah arus zaman yang bergerak cepat, ia menyadari minat masyarakat mulai condong ke tarian modern.
Tapi bukan berarti tari tradisional harus kalah pamor. Baginya, teknologi justru membuka pintu baru.
Ia percaya generasinya bisa memperkenalkan ulang ragam tari tradisional melalui media sosial seperti Tiktok atau Instagram.
“Supaya orang tahu kalau tari tradisional itu juga indah,” ujar Keyla.
Perjalanan menarinya tidak selalu mulus, tetapi setiap capaian menjadi penguat.
Ia pernah meraih juara dalam berbagai lomba dan tampil di panggung-panggung besar.
Momen itulah yang membuat semua latihan panjang terbayar.
Rasa puas itu muncul bukan karena tepuk tangan semata, melainkan karena kerja keras yang tuntas.
Dalam keseharian, ia harus pandai membagi waktu. Jadwal sekolah dan latihan sering kali bersinggungan.
Jika terpaksa absen karena tampil, ia mengejar semua tugas sekolah pada malam hari.
Ia tidak ingin prestasi panggung membuat prestasi akademiknya ikut meredup.
“Yang penting nilainya tetap stabil,” tuturnya.
Jika diminta tampil di luar kota, ia tidak ragu membawa identitas daerahnya.
Tari Lahbako dari Jember menjadi pilihannya untuk memperkenalkan budaya lokal.
Namun diam-diam ia juga ingin menarikan tarian khas Betawi yang menurutnya energik dan menyenangkan.
Selain itu, tarian Ngganong juga menjadi salah satu yang ingin ditampilkan suatu hari nanti. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh