Radar Jember – Risiko mata minus tak hanya dialami mereka yang memiliki faktor genetik.
Pola hidup di era digital yang menatap gawai dalam durasi yang panjang, bekerja di depan monitor, dan kurang memberi jeda pada mata membuat siapa pun berpotensi mengalami miopia.
Perawat spesialis mata John Fawcett Foundation, Nengah Sariyasa, mengatakan kelelahan mata (asthenopia) menjadi pintu awal munculnya atau bertambahnya minus.
Oleh karena itu, manajemen penggunaan layar menjadi penting.
“Aktivitas melihat layar tidak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan adalah memberi mata kesempatan beristirahat,” ujarnya.
Sariyasa menekankan penerapan teori 20-20-20 sebagai cara paling sederhana dan efektif mencegah kerusakan akibat paparan layar.
Setiap 20 menit menatap layar, mata harus diistirahatkan selama 20 detik dengan melihat objek jauh sekitar 20 kaki atau kurang/lebih 6 meter.
“Ini berlaku untuk semua usia, baik remaja maupun orang dewasa,” tambahnya.
Kebiasaan ini terbukti mengurangi gejala kelelahan mata seperti rasa panas, berat, hingga perih.
Jika dibiarkan berulang, kondisi tersebut dapat mempercepat progresivitas miopia atau rabun jauh.
“Kalau mata sering lelah, minus lebih cepat naik,” jelasnya.
Sariyasa menegaskan bahwa mata normal pun bisa berubah menjadi minus jika terus dipaksa bekerja tanpa jeda.
“Mata normal tetap bisa minus kalau dibiarkan lelah terus-menerus,” tutupnya. (yul/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh