Radar Jember - Ali Mohtar Zamroni atau yang akrab disapa Roni menyimpan perjalanan panjang yang penuh keteguhan.
Ia bertahan bukan hanya karena kebutuhan hidup, tetapi karena keyakinan bahwa kemandirian adalah satu-satunya jalan yang membuatnya tetap merasa utuh sebagai manusia.
Raut wajah bahagia Roni tak bisa disembunyikan saat menerima hadiah sepeda dari Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza, awal November lalu.
Saat itu, dia berhasil menjawab pertanyaan Wamen mengenai apa itu kepanjangan Kumitra.
“Kemudahan Usaha Mikro untuk Bermitra,” jawabnya di Balai Serbaguna (BSG) Kaliwates.
Momen sederhana itu menjadi pintu kecil yang membawanya berbicara lebih jauh mengenai harapan dan kegelisahannya sebagai penyandang disabilitas yang ingin mandiri.
Dari itulah Roni mendapat kesempatan langka untuk berbicara langsung kepada sang wakil menteri.
Ia menanyakan hal-hal penting tentang kemudahan akses permodalan bagi penyandang disabilitas.
“Kata beliau, difabel yang ingin usaha dan mendapatkan kemudahan akses permodalan harus berorganisasi atau berkelompok,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Baginya, jawaban itu menegaskan apa yang selama ini ia rasakan: peluang ada, tapi aksesnya tak selalu sampai kepada mereka yang paling membutuhkan.
Seusai pertemuan itu, Roni berbagi kisah mengenai beratnya memulai usaha pijat.
Padahal sebelum itu, hidupnya jauh berbeda.
Ia pernah bekerja sebagai staf helpdesk sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta hingga akhir 2014.
Namun, ia mengalami penurunan low vision dan sempat buta total selama tiga tahun.
“Saya pikir, saya harus cari pekerjaan yang tidak berhubungan dengan mata,” ujarnya.
Ia sempat bekerja lima bulan secara remote selama masih di perusahan telekomunikasi.
Namun, ia akhirnya memutuskan resign dan belajar pijat tunanetra di Malang pada 2015.
Sejak kecil ia sebenarnya sudah low vision, tapi penurunan drastis membuat tubuhnya melemah akibat efek radiasi komputer yang memicu kambuhnya glaukoma.
Pelatihan pijat rehabilitasi di Malang, menjadi titik balik yang membuatnya berani memulai hidup baru.
“Saya dulu bahkan tidak tahu harus mulai dari mana,” katanya.
Dari ruang pelatihan sederhana itu, ia menata ulang hidupnya, memilih pijat sebagai jalan paling jujur dan realistis.
Dalam menjalani profesinya, ia menghadapi suka duka yang tidak semua orang tahu.
Roni mengandalkan ojek online untuk mobilitas.
Biaya transportasi pulang-pergi sering membuatnya harus menghitung ulang pendapatannya.
Ada juga risiko di lapangan.
“Di dunia pijat tidak semuanya lurus. Ada kalanya terjebak di abu-abu bahkan hitam. Tapi semua dijalani dengan penuh kehati-hatian dan semangat,” ujarnya.
Ia pernah mengalami order fiktif, penipuan pembayaran, hingga permintaan tak wajar yang mengarah pada tindakan asusila. Semua godaan itu ia tolak.
“Kadang ada permintaan seksual. Saya selalu bilang bukan pijat vitalitas karena ada risiko hukum,” tegasnya.
Meski menghadapi banyak tantangan, dari soal tarif, keamanan, hingga pelanggan yang tidak jujur, Roni tetap melakukannya dengan hati.
Baginya, menjadi pemijat bukan sekadar profesi, melainkan bentuk perlawanan halus terhadap keterbatasan dan stigma.
Bapak dari dua anak ini ingin menunjukkan bahwa kemandirian bukanlah hadiah.
Melainkan ruang yang harus disediakan oleh negara dan masyarakat.
Karena itu, ia berharap pemerintah memberikan akses permodalan yang betul-betul bisa dijangkau difabel tanpa hambatan teknis.
“Yang kami butuhkan hanya akses yang adil,” ujarnya. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh