Radar Jember - Memudarnya penglihatan membuat sesorang seolah kehilangan dunia.
Jutaan penderita katarak di negeri ini harus berjuang menjalani hari dalam kabut pandang yang kian pekat.
Di tengah mahalnya akses pengobatan, John Fawcett Foundation (JFF) berdiri dengan misi mengembalikan senyum mereka yang kehilangan cahaya.
Sejak berdiri pada 1989 di Sanur, Bali, yayasan sosial dan kemanusiaan ini memegang teguh misi Giving the Gift of Sight, memberi anugerah penglihatan bagi mereka yang tak mampu.
Awalnya, JFF bergerak di berbagai bidang kemanusiaan.
Namun sejak 1991, fokusnya tertuju pada masalah katarak, penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia.
Project Manager JFF Komang Wardhana menceritakan, selama lebih dari tiga dekade, pihaknya telah menyalurkan layanan operasi katarak gratis, pemberian kacamata dan obat, hingga pembuatan mata palsu bagi pasien yang sudah kehilangan penglihatan total.
“Masalah katarak ini serius. Banyak warga kurang mampu yang tidak terjangkau program pemerintah. Kami berupaya membantu mereka agar bisa kembali melihat,” ujar Komang di sela-sela bakti sosial JFF di Salah satunya dengan Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember.
Di bawah koordinasi tim beranggotakan sekitar 25 orang, JFF bekerja sama dengan ratusan instansi dan rumah sakit di seluruh Indonesia, salah satunya dengan RSBS Jember.
Kerja sama itu telah terjalin sejak 2016.
Tahun ini menjadi tahun ke-9 kolaborasi tersebut, dengan total 12 kali kegiatan.
“Sempat terhenti sementara saat pandemi Covid-19. kalau di tahun ini, ini yang kedua kalinya setelah Januari lalu,” katanya.
Komang melanjutkan ceritanya, untuk menjangkau wilayah terpencil, JFF memiliki tiga armada truk medis keliling.
Truk ini berfungsi layaknya ruang operasi berjalan, dilengkapi peralatan modern untuk melakukan tindakan di lapangan.
Tim medisnya kerap harus menempuh perjalanan jauh, melintasi gunung dan laut, demi menembus pelosok yang tidak memiliki fasilitas kesehatan memadai.
“Kami sudah melakukan operasi di berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Flores, Maluku, hingga Papua termasuk sampai ke Timika dan Merauke,” kata Komang.
Meski skala kegiatannya besar, JFF tetap konsisten menjadi organisasi nirlaba.
Tidak ada keuntungan yang dicari, hanya keinginan untuk membantu.
Seluruh dana operasional berasal dari donasi perorangan, lembaga, dan perusahaan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Lebih jauh, kata Komang katarak adalah masalah penglihatan terbesar di dunia.
Jika tidak ditangani, penderitanya akan kehilangan penglihatan secara permanen.
Pihaknya berharap pemerintah daerah lebih aktif mendata warga yang tidak memiliki BPJS Kesehatan, agar bantuan bisa lebih tepat sasaran.
“Masih banyak warga yang sebenarnya bisa ditolong, tapi tidak terdata. Kami berharap pemerintah bisa bantu mendata mereka untuk kami tangani,” ujarnya. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh