Radar Jember – Bagi petani di Jember, penggunaan drone untuk penyemprotan pestisida bukan lagi barang asing.
Terlebih saat peralihan menuju musim hujan seperti sekarang, ketika hama berkembang lebih cepat dan penanganan harus lebih sigap.
Meski tarif jasa semprot drone lebih mahal dibanding tenaga manual, banyak petani menilai selisih harga itu sepadan dengan kecepatan dan efisiensi yang diberikan.
Pilot drone pertanian PT Agro Sentosa, Muhammad Ridwan alias Hafid, menilai petani Jember cukup adaptif terhadap teknologi baru.
Jasa penyewaan drone cukup ramai, bahkan ada petani yang memiliki drone pribadi.
“Setahu saya ada tiga perusahaan yang menyediakan jasa drone pertanian di Jember. Ada juga petani yang punya drone sendiri, padahal harganya tidak murah,” ujarnya.
Dijelaskan, drone pertanian umumnya terbagi menjadi dua jenis, yakni rakitan dan pabrikan.
Drone rakitan berada di kisaran harga Rp 100 juta, sedangkan pabrikan bisa mencapai Rp 200 juta lebih.
Bedanya, drone rakitan biasanya berfitur lebih sederhana dan kapasitas tangkinya lebih kecil, namun lebih mudah diperbaiki jika mengalami kerusakan.
“Kalau drone rakitan jatuh, tinggal ganti part yang rusak. Kalau pabrikan rusak, lebih ribet. Tapi kelebihan pabrikan fiturnya lengkap, rute terdata, semua penerbangan terekam,” jelasnya.
Hafid menggunakan drone rakitan merek Full Drone Solution (FDS) asal Sleman.
Sedangkan drone pabrikan merupakan produk Tiongkok seperti DJI dan XAG.
Meski harganya fantastis, tarif yang dikenakan relatif terjangkau, yakni Rp 200 ribu per hektare.
“Ada perusahaan yang menyediakan drone sekaligus obatnya. Kalau saya hanya jasa semprotnya saja, obat dari petani,” tambahnya.
Petani padi di Sumbersari, Komariyah, mengaku mengenal teknologi ini sejak 2022.
Awalnya skeptis, namun kini dia mengaku ketagihan memakai drone.
“Dulu saya denial, ngapain pakai drone mahal-mahal. Mending pakai tenaga orang. Tapi setelah nyoba, ternyata sangat efisien. Sekarang kalau disuruh milih drone atau manusia, ya, pilih drone,” ungkapnya.
Secara harga, tenaga manual memang lebih murah sekitar Rp 150 ribu per hektare.
Namun dari sisi waktu, selisihnya jauh.
Pengerjaan manual butuh 4–5 jam, sementara drone kurang dari satu jam.
Selain itu, kesalahan perhitungan sering membuat semprotan manual tidak merata.
“Misalnya pestisida dua botol untuk satu hektare. Kalau manual, baru setengah hektare kadang sudah tinggal setengah botol. Akhirnya yang disemprot terakhir tidak kebagian. Kalau drone, langsung merata,” tuturnya di sela-sela penyemprotan lahan menggunakan drone.
Pemilik lahan seluas lima hektare itu menambahkan, beberapa jenis hama bersembunyi di bawah daun sehingga sulit dijangkau semprotan manual.
Sementara drone menghasilkan angin cukup kuat yang membolak-balikkan daun, membuat semprotan mengenai seluruh permukaan tanaman.
“Dari efisiensi waktu, tenaga, sampai efektivitas obat, untungnya banyak sekali,” pungkasnya. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh