Radar Jember - Daerah aliran sungai (DAS) harus aman dari segala gangguan.
Ini penting untuk mencegah terjadinya banjir maupun dampaknya.
Nah, meluapnya Sungai Petung lewat anak sungai perlu menjadi perhatian agar banjir bandang tak terulang.
Seperti dialami Haris, 52, warga Dusun Pertelon, Desa Pakis, Kecamatan Panti.
Rumah keluarga ini nyaris tenggelam karena banjir bandang yang naik melalui anak sungai.
Hal itu membuat sekitar rumahnya terdampak banjir untuk kali kedua.
Besarnya air sungai saat itu menyebabkan air Sungai Petung meluap hingga merusak bagian hulu, pada anak sungai yang menjadi saluran irigasi sawah seluas 8 hektare.
Pemerintah Desa (Pemdes) panti bersama Dinas PUBMSDA Jember saat kejadian langsung bergerak cepat, memperbaiki saluran yang rusak yang di bantu dari Polsek dan Koramil Panti.
Meluapnya Sungai Petung itu membuat warga sekitar sungai mengaku waswas karena takut terjadi banjir yang lebih besar lagi.
Apalagi, warga telah trauma karena dengan kejadian banjir bandang sebelumnya yang terjadi pada akhir bulan Januari 2022 yang membuat sungai terbelah menjadi dua sampai sekarang.
Sementara, meluapnya sungai Senin (10/11) lalu membuat air menggenangi pekarangan rumah Haris dan rumah kerabatnya, Mistiyono, 56.
Air luapan dari sungai itu naik ke lantai teras rumahnya, bukan hanya luapan air juga bercampur lumpur.
Sehingga ketika air mulai surut hanya tinggal lumpurnya saja.
Luapan air dari Sungai Petung juga membawa sampah dan potongan kayu yang masuk ke pekarangan rumah Haris.
“Warga masih trauma dengan kejadian meluapnya Sungai Petung pada Senin (10/11) lalu. Warga khawatir ketika memasuki bulan Desember 2025 hingga awal Januari 2026 terjadi hujan besar,” ulasnya.
Sementara itu, Zaini, Kepala Desa Pakis, Kecamatan Pakusari, mengatakan, terjadinya banjir luapan dari Sungai Petung itu karena terjadi hujan deras di bagian hulu lereng Gunung Argopuro.
Air sungai banjir yang mengakibatkan teras kedua rumah warga digenangi lumpur.
Kini, setelah terjadi banjir bandang akhir tahun 2022 lalu, Sungai Petung tetap menjadi dua bagian (sungai kembar).
“Awalnya beberapa rumah warga di sekitar jembatan Pasar Badean jauh dari sungai. Tetapi, karena menjadi dua sungai, sekarang sangat dekat, bahkan aliran sungai yang baru lebih besar dari sungai yang lama,” jelasnya.
Zaini dan warga pun berharap agar sungai dikembalikan ke asal, sebelum dihantam banjir tahun 2022 silam.
“Setiap hujan turun cukup deras, air naik di sekitar dapur rumah warga, sangat berbahaya,” pungkas Zaini. (jum/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh