Radar Jember – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jember mengimbau para pelaku usaha, baik ritel maupun UMKM, untuk lebih realistis dalam menentukan harga produk.
Pasalnya, masyarakat Jember dinilai sangat selektif dan sensitif terhadap harga.
Sementara daya beli belum sepenuhnya pulih pascapandemi.
Kabid Organisasi dan Humas Apindo Jember Imam mengatakan bahwa akar persoalan rendahnya transaksi penjualan di berbagai pusat perbelanjaan terletak pada daya beli masyarakat yang lemah akibat upah yang masih kecil.
“Untungnya, mal di Jember biaya parkirnya kecil dan masuknya gratis, jadi tetap ramai pengunjung. Tapi ya begitu, pengusaha sambat karena daya beli rendah. Ini sudah berlangsung sejak setelah pandemi,” ujar Imam kepada Jawa Pos Rada Jember, Rabu (13/11).
Menurutnya, banyak pengusaha ritel maupun pelaku UMKM di kawasan pusat kota mengeluhkan kondisi tersebut.
Meski jumlah pengunjung di mal maupun area publik cukup tinggi, omzet penjualan tidak menunjukkan peningkatan berarti.
“Di Alun-Alun, kalau ada hiburan gratis pasti ramai, tapi kalau ditanya ke pedagang, rata-rata omzetnya jauh dari harapan,” ungkap Imam.
Ia juga menilai, jika dibandingkan dengan daerah lain di kawasan Tapal Kuda, kondisi di Jember paling menantang.
Misalnya, mal Citiplaza di Bondowoso yang justru masih ramai dan memiliki tingkat transaksi lebih tinggi.
“Obrolan saya dengan teman-teman pengusaha di luar kota, fenomena rojali (rombongan jarang beli, Red) dan Rohana (rombongan hanya nanya-nanya, Red) paling parah itu di Jember,” katanya.
Imam menambahkan, sebagian pengusaha belum menyesuaikan strategi bisnis dengan daya beli masyarakat setempat.
Banyak toko masih menjual produk di luar jangkauan harga konsumen, padahal barang serupa di platform daring bisa didapat dengan harga lebih murah.
“Warga Jember selektif sekali soal harga. Banyak yang ke mal hanya lihat-lihat, tapi belanjanya di toko online. Dari pemantauan kami, mall yang menjual produk lebih terjangkau seperti Roxy justru transaksi penjualannya lebih tinggi,” jelasnya.
Imam menegaskan, rendahnya upah pekerja menjadi faktor utama lemahnya daya beli masyarakat.
Meski Jember termasuk daerah padat karya dengan banyak lapangan pekerjaan.
Apalagi, sebagian besar pekerja menerima gaji di bawah kebutuhan layak.
“Banyak perusahaan besar, terutama di sektor perkebunan yang pekerjanya bergaji kecil. Akibatnya pengeluaran masyarakat terbatas, dan hal itu berdampak langsung pada sektor perdagangan,” pungkasnya. (yul/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh