Radar Jember - Regenerasi budayawan dinilai menjadi tantangan besar dalam pelestarian nilai dan tradisi lokal.
Di tengah derasnya arus digital, ruang bagi generasi muda untuk tumbuh dan terlibat dalam kegiatan kebudayaan masih dinilai sempit.
Hal itu disampaikan Direktur Pengembangan Budaya Digital Kementerian Kebudayaan RI, Andi Syamsu Rijal, saat menghadiri Kenduri Sastra Tepi Benua 2025 yang digelar di Pantai Payangan (25/10).
Menurutnya, banyak ruang ekspresi budaya di daerah yang belum ramah bagi keterlibatan anak muda.
Padahal, tanpa regenerasi, kesinambungan tradisi dan praktik kebudayaan lokal berpotensi terhenti.
“Anak muda tidak boleh hanya jadi penonton kebudayaan. Mereka harus ikut menjadi pelaku, penulis, dan pewaris nilai,” ujarnya.
Andi menambahkan, penguatan generasi penerus menjadi fokus utama Kementerian.
Dia menyebut upaya ini tidak hanya dilakukan di Jember, tetapi juga di sejumlah daerah lain di Sumatera dan Jawa, melalui kegiatan berbasis komunitas.
“Saya kemarin di Sumatera selatan menghadiri acara serupa, kami mendapati setiap wilayah memiliki tantangan yang sama di mana minat anak muda akan budaya semakin turun,” katanya.
Sementara itu, Gunawan Tri Pamungkas, pegiat Srawung Sastra sekaligus Board Manager Balai RW Institute, menyebut bahwa keterlibatan generasi muda penting untuk menjaga tradisi tetap relevan dengan zaman.
Ia mencontohkan upaya komunitasnya menggelar Kenduri Sastra Tepi Benua yang menggabungkan tradisi lisan pesisir dengan pendekatan digital.
“Kami mencoba menghidupkan lagi kisah dan ritual laut, lalu mendokumentasikannya dalam bentuk digital agar bisa diakses dan diteruskan generasi berikutnya,” terang Gunawan.(yul/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh