Radar Jember - Keterbatasan tidak menghentikan Rika Yuniarsari untuk terus berkarya dan beradaptasi dengan teknologi.
Meski tak pernah melihat dunia, dia menemukan caranya untuk mengikuti perkembangan zaman.
Bagi Rika Yuniarsari, warna hanyalah cerita. Di dunianya, warna hitam, putih, gelap dan terang hanyalah kata, tanpa pernah tahu seperti apa kelihatannya.
Maklum, dia terlahir dengan kondisi tunanetra total.
Kendati demikian, Rika tumbuh menjadi pribadi yang ceria, bahkan suaranya dapat memukau banyak orang.
Sejak usia lima tahun, Rika sudah terbiasa ikut ayahnya yang gitaris tampil di acara pernikahan dan hajatan.
Dari situlah bakat bernyanyinya terasah, meski tanpa pernah ikut les atau sekolah musik.
“Belajar sendiri, sama orang tua. Dengerin, tiru, terus latihan,” ujarnya.
Namun perjalanan Rika tidak selalu mulus. Saat berusia sepuluh tahun, dia sempat berhenti bernyanyi karena ejekan tetangga.
“Ngapain sih ikut-ikutan ke acara, minta uang, ya? Udah buta sok-sokan,” kenangnya.
Kalimat itu membuatnya terpukul. Ia tak mau lagi tampil selama setahun penuh.
Perlahan semangat disabilitas netra ini tumbuh kembali.
Undangan tampil dari radio dan komunitas musik membuatnya bangkit.
Di usia 11 tahun dia mulai aktif kembali menekuni dunia musik.
Kendati demikian, satu hal yang diinginkannya yakni bersekolah.
Dia mengaku tidak diizinkan sekolah karena kekhawatiran orang tuanya.
Dia baru diizinkan masuk sekolah di usia 16 tahun.
“Saya masuk SLB Branjangan langsung kelas 3 sd, dari situ baru belajar menulis dan membaca huruf Braille. Seiring waktu saya juga sering tampil di sekolah maupun di luar ketika sekolah kami diundang,” kenangnya.
Kini di usia 21 tahun, Rika duduk di bangku kelas 3 SMP dan dia semakin produktif.
Rika bahkan tengah menulis lagunya sendiri berjudul Tresna Soceh, tentang cinta yang tak sampai.
Selain itu, dengan bantuan aplikasi pembaca layar di ponsel, ia bisa merekam, mengedit suara, bahkan membuat konten di Youtube.
Channel miliknya bernama Rika Safara Channel sudah punya lebih dari 700 pelanggan.
“Sekarang bikin cover lagu, kadang juga video dari AI,” katanya.
Rika tak hanya tampil di depan mikrofon. Ia juga menjadi editor dalam proyek drama audio bersama teman-temannya sesama tunanetra.
Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Lumajang, Surabaya, dan Kalimantan.
“Saya mengatur suara, menyusun efek ngatur volume, nanti ditayangkan di channel-nya kelas, namanya Kwarsa Channel,” lanjutnya.
Meski hidup tanpa penglihatan, Rika tak mau tertinggal dalam teknologi.
Ia bisa menggunakan berbagai peralatan dari aplikasi sederhana hingga soundcard profesional.
“Sekarang pakai F999, bisa buat live juga, kalau live nyanyi di TikTok kadang dapat gift,” pungkasnya. (yul/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh