Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Depresi Bukan Sekadar Sedih, tetapi Gangguan Mental Serius

M Adhi Surya • Sabtu, 8 November 2025 | 02:44 WIB
Nuraini Kusumaningtyas, Psikolog Klinis RSU Kaliwates
Nuraini Kusumaningtyas, Psikolog Klinis RSU Kaliwates

KALIWATES, Radar Jember – Depresi masih sering disalah artikan sebagai perasaan sedih biasa.

Padahal, gangguan mental ini bisa mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, hingga bertindak, bahkan mengubah fungsi otak dalam mengambil keputusan.

Psikolog Klinis RSU Kaliwates, Nuraini Kusumaningtyas, menyebut depresi sebagai kondisi medis serius yang perlu penanganan segera, bukan sekadar suasana hati yang bisa hilang dengan sendirinya.

Menurutnya, depresi bersifat persisten dan dapat berlangsung hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu untuk dapat didiagnosis secara klinis.

Baca Juga: Gara-gara Depresi, Pemuda Asal Surabaya Melompat dari Atas KA Probowangi

“Banyak yang mengira depresi itu cuma malas beraktivitas atau murung. Padahal, depresi dapat mempengaruhi bagian otak yang berperan dalam pengendalian emosi dan penalaran,” ujarnya.

Kondisi itu membuat penderitanya kehilangan kemampuan berpikir jernih, sulit fokus, dan mudah terjebak dalam pikiran negatif yang berulang.

Ia menjelaskan, depresi bisa menyebabkan distorsi kognitif, yaitu pola pikir keliru yang membuat seseorang merasa tidak berharga, pesimis, dan terus menyalahkan diri sendiri.

Baca Juga: Diduga Depresi, Warga di Bangsalsari Jember Ini Tewas Tersambar Kereta Api Ijen Ekspres Rute Banyuwangi Malang

Dalam kondisi berat, penderita dapat mengalami delusi atau halusinasi yang membuat persepsinya terhadap realitas terganggu.

“Distorsi inilah yang membuat penderita kehilangan rasionalitas dan tidak mampu menilai konsekuensi dari tindakannya,” katanya.

Ia menambahkan, depresi juga bisa disertai gangguan penyerta lain seperti gangguan psikotik atau kecemasan berat.

Kombinasi ini membuat penderita rentan mengalami perubahan suasana hati ekstrem, mudah marah, hingga perasaan bersalah yang berlebihan.

Founder Biro Psikologi Rumah Kecil itu juga menegaskan pentingnya peran keluarga dalam mengenali tanda-tanda awal depresi.

Perubahan perilaku seperti menarik diri, kehilangan minat pada aktivitas, sulit tidur, atau perubahan nafsu makan harus diwaspadai.

“Keluarga adalah pihak yang paling dekat dan paling cepat mengenali perubahan kecil itu,” ujarnya.

Ia menekankan, dukungan keluarga dan lingkungan menjadi kunci utama pemulihan penderita. Pendekatan yang empati dan tidak menghakimi bisa membantu penderita mau mencari pertolongan profesional.

“Depresi bukan kelemahan, tapi kondisi medis yang bisa disembuhkan jika ditangani dengan benar,” pungkasnya. (dhi/dwi)

 

 

Editor : Nur Hariri
#depresi #otak #mental