PANTI, Radar Jember - Gaung keberhasilan Kelompok Tani Rengganis di Kecamatan Panti, Jember, kini terdengar hingga ke negeri Gajah Putih, Thailand.
Sejumlah akademisi dari Universitas Chiang Mai Thailand datang berkunjung pada Minggu (2/11).
Kedatangan mereka untuk studi banding dan eksplorasi wawasan pertanian.
Mereka tertarik mempelajari sistem pertanian yang diterapkan kelompok tani di kaki Gunung Argopuro itu, terutama dalam mengelola kebun kopi dan tanaman naungan secara berkelanjutan.
Sebagai kelompok binaan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember, Kelompok Tani Rengganis mendapat kesempatan berbagi pengalaman dengan para akademisi tersebut.
Ketua HKTI Jember, Ponimin, menjelaskan bagaimana para petani di Panti berhasil meningkatkan nilai ekonomi lewat inovasi sistem tumpangsari.
“Dengan sistem tumpangsari dalam menanam komoditas kopi yang dinaungi tanaman pisang dan lamtoro, terbukti meningkatkan nilai ekonomi yang didapat kelompok tani,” ujar Ponimin.
Dalam kunjungan itu, rombongan akademisi yang dipimpin Dr Daranrat Jaitiang memilih Jember bukan tanpa alasan.
Selain menjadi pusat penelitian kopi satu-satunya di Indonesia, daerah ini juga memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi berbasis ekologi.
"Jadi, mereka menilai sistem tumpangsari di Panti ini bukan hanya menguntungkan secara finansial, tapi juga menjaga keseimbangan lingkungan," katanya.
Kebun Rengganis yang berada di lahan seluas sekitar 1.300 hektare menjadi contoh nyata penerapan pertanian terpadu.
Selain kopi, petani juga menanam durian, manggis, pisang, dan alpukat sebagai tanaman naungan.
Model ini membuat petani memperoleh tambahan penghasilan dari berbagai hasil bumi. Sekaligus menjaga kawasan setempat sebagai penyuplai oksigen alami di Jember.
Ponimin menambahkan, pola pertanian seperti ini mendukung konsep ekonomi-ekologi yang kini mulai diterapkan di berbagai wilayah.
Melalui sistem yang memperhatikan aspek lingkungan dan sosial, petani tidak hanya memperoleh hasil panen, tapi juga ikut berperan dalam menjaga keberlanjutan alam.
“Pertanian yang sehat bukan hanya menghasilkan uang, tapi juga oksigen bagi kehidupan,” pungkasnya. (kin/dwi)
Editor : M. Ainul Budi