radar jember - SETELAH nekat membunuh Susiati, 60, ibu kandungnya, Tersangka Imam Gujali, 35, mengaku kalau yang dibunuh itu bukan ibunya. Ini disampaikan tersangka kepada polisi.
Gujali menyebut, dia kerap dimarahi oleh korban.
“Itu bukan ibu saya, saya tidak punya ibu seperti itu. Gak tau siapa yang saya bunuh itu, kalau ibu saya pasti tidak akan marah-marah terus kepada saya,” demikian, pengakuan tersangka Imam Gujali, yang nekat menghabisi nyawa ibu kandungnya.
Dari raut wajah tersangka tidak nampak ada penyesalan setelah membunuh ibu kandungnya dengan sadis. Bahkan tersangka berkali-kali bilang menyebut yang dibunuh bukanlah ibunya. “Saya setiap hari dimarahi karena terus diminta untuk kerja di sawah,” kata Imam.
Setiap hari saya diminta kerja disawah , mereka marah marah terus akhirnya saya capek mendengar omelannya, kata tersangka kepada petugas.
Tersangka mengaku saat membunuh ibunya sudah tidak melihat kalau itu ibunya.
Akibat pukulan dengan menggunakan alat pemanas tambal ban, korban mengalami luka cukup parah di beberapa bagian. Luka cukup parah dibagian telinga, pipi dan kepala belakang.
Karena korban dipukul berkali kali menggunakan alat pemanas tambal ban.
Kapolsek Jenggawah AKP Eko Basuki mengatakan, tersangka pembunuhan ini diduga mengalami depresi.
“Ia terlihat sejak bercerai dengan istrinya sekitar 5 tahun lalu. Pengakuan keluarga kalau tersangka ini sering marah,” jelasnya.
Tersangka nekat melakukan penganiayaan hingga mengakibatkan ibu kandungnya meninggal dengan mengenaskan.
Korban dipukul pertama kali di dapur rumah tersangka menggunakan alat pemanas tambal ban.
“Tersangka juga masih memukul korban pada saat warga mengamankan korban yang akan membawa ke rumahnya. Tersangka masih memukul ibunya saat mendekati pintu samping rumahnya,” jelasnya. (jum/nur)
Editor : M. Ainul Budi