RADAR JEMBER - Psikolog Jember Marisa Selvy Helphiana menjelaskan, depresi yang tidak tertangani dapat memicu tindakan fatal, termasuk kekerasan terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Hal itu disampaikan menanggapi kasus anak membunuh ibu kandung di Kecamatan Jenggawah, yang diduga dilakukan dalam kondisi depresi berat.
Menurutnya, depresi bukan muncul karena satu sebab tunggal.
Ada banyak faktor yang saling terkait mulai dari kondisi biologis, tekanan psikologis, hingga lingkungan sosial yang tidak mendukung.
Perubahan kimiawi pada otak dapat memicu pikiran negatif yang terus berulang, perasaan tidak berharga, dan hilangnya minat terhadap hal-hal yang dulu disukai.
Gejala itu kerap disertai gangguan tidur, perubahan nafsu makan, hingga muncul keinginan menyakiti diri sendiri atau orang lain.
Pada titik itu, penderita biasanya sudah kesulitan berpikir rasional dan tak mampu menimbang konsekuensi dari perbuatannya.
“Ada kecenderungan untuk tidak peka terhadap realitas. Logika kabur oleh emosi yang tidak stabil,” jelasnya.
Ia menambahkan, depresi sering berakar dari kombinasi tiga hal besar, faktor biologis seperti ketidakseimbangan zat kimia otak, faktor psikologis seperti tekanan batin atau trauma, serta faktor lingkungan seperti konflik keluarga atau tekanan ekonomi.
Jika ketiganya saling bertumpuk, kondisi mental seseorang bisa goyah dan memicu tindakan berisiko.
Karena itu, keluarga disebut menjadi garda terdepan untuk mengenali tanda-tandanya. Marisa mengingatkan agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anggota keluarga seperti mudah tersinggung, menarik diri, atau tampak kehilangan semangat hidup.
“Langkah awalnya bukan menghakimi, tapi mendengarkan dan memberi ruang aman untuk bercerita,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan lingkungan sekitar. Stigma negatif terhadap gangguan mental justru memperparah keadaan.
Pendekatan empatik dan tidak menghakimi akan membantu penderita lebih terbuka mencari pertolongan profesional. (dhi/nur)
Editor : M. Ainul Budi