Radar Jember – Upaya memperkaya destinasi wisata edukatif di Kabupaten Jember kini mulai menunjukkan hasil.
Setelah diresmikan awal tahun 2025, Museum Telu perlahan menjadi salah satu tujuan wisata baru yang menarik perhatian masyarakat, terutama kalangan pelajar.
Nama “Telu” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “tiga”, melambangkan tiga tema utama yang menjadi dasar koleksi museum ini: terbentuknya alam semesta, lahirnya peradaban manusia, dan perkembangan kebudayaan.
Berlokasi di Perum Puri Bunga Nirwana, Kecamatan Sumbersari, museum ini berdiri sebagai ruang belajar sejarah yang terbuka bagi siapa saja.
“Dari inisiasi itu, kami membangun ruang yang edukatif berbasis budaya untuk seluruh elemen masyarakat,” ujar Kepala Museum Telu, Priwahyu Hartanti saat peresmian di bulan Januari.
Museum Telu menjadi semakin dikenal setelah masuk dalam rute perdana Bus Si Cinta (Siap Keliling Wisata Jember dengan Penuh Cinta).
Program wisata edukasi keliling yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember.
Baca Juga: Goa Wisata Dampar di Lumajang Dipenuhi Kelelawar, Pengunjung Nekat Masuk Karena Penasaran
Program ini bertujuan mengenalkan potensi wisata lokal dengan cara yang menyenangkan dan interaktif, terutama bagi pelajar dan generasi muda.
Bus berwarna cerah dengan desain khas Jember itu pertama kali diluncurkan oleh Bupati Muhammad Fawait pada Oktober lalu, saat gelaran Bunga Desaku ke-6 di Kecamatan Panti.
Dalam perjalanan perdananya, Bus Si Cinta mengajak para siswa dari berbagai sekolah di Jember berkunjung ke dua titik utama: Ruang Koleksi Benda Purbakala di Patrang dan Museum Telu di Sumbersari.
“Program dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember ini benar-benar keren untuk meningkatkan promosi wisata yang ada di Jember. Dari hal sederhana seperti ini, kita bisa melihat betapa pedulinya pemerintah untuk warganya,” kata Gus Dhimas Faisol Akbar, salah satu peserta kunjungan yang juga Gus Ning Jember.
Selain koleksi benda-benda bersejarah, Museum Telu memiliki galeri interaktif yang memberi ruang bagi masyarakat untuk memamerkan karya mereka, mulai dari lukisan, patung, hingga instalasi seni.
Menariknya, museum ini tidak memungut biaya masuk. Pengunjung hanya perlu datang pada hari Selasa hingga Minggu, karena museum tutup setiap Senin untuk proses kurasi koleksi.
Di tengah geliat pariwisata Jember yang kian beragam, Museum Telu menjadi bukti bahwa belajar sejarah pun bisa semenarik berwisata.
Penulis: Muh Slamet Hariyadi
Editor : Nur Hariri