Radar Jember - Teriakan siswa memecah suasana sore di SMA Muhammadiyah 3 Jember.
Poster-poster penolakan dibentangkan siswa. Beberapa guru berorasi cukup panjang.
Mereka menolak pelantikan ulang kepala sekolah yang dianggap tak melalui proses semestinya.
Sepulang sekolah, sekira pukul 16.00, Kamis (30/10) lalu, puluhan siswa dan guru SMA Muhammadiyah 3 Jember menggelar aksi protes di halaman sekolah.
Mereka menolak pelantikan Sony Bakhtiar sebagai kepala sekolah untuk periode kedua.
Dengan membawa poster dan seruan lantang, massa aksi bergerak ke aula lantai dua tempat pelantikan berlangsung.
Massa menuntut agar pelantikan itu dihentikan.
Ketegangan sempat terjadi di aula itu.
Salah seorang guru sekaligus mantan anggota DPRD Jember Abdul Ghafur bahkan bersimpuh meminta agar acara pelantikan kepala sekolah itu tidak dilanjutkan.
Hal itu dilakukan saat awal agenda pelantikan kepsek yang dilakukan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, hasil seleksi pemilihan kepsek dan pelantikan Sony Bakhtiar disebut cacat prosedur.
Saat proses tes psikologi di Unmuh Jember, Sony disebut tidak masuk dalam tiga besar.
Namun, saat SK turun, justru nama Sony yang menjadi kepsek SMAM 3 Jember.
Guru Agama Islam dan Bahasa Arab, Sudahri, mengatakan, unjuk rasa yang dilakukan guru dan siswa bukan sekadar bentuk perlawanan.
Melainkan kritik terhadap proses pemilihan kepsek yang dinilai tidak wajar.
“Kami menolak pelantikan karena ada proses yang abnormal. Artinya ini tidak seperti biasanya. Padahal proses itu sudah selesai, tapi kemudian ada skenario (pemilihan, Red) lagi. Sehingga terpilih Sony sebagai kepsek,” ujarnya, Kamis (30/10).
Ia menegaskan, aksi ini justru dilakukan demi menyelamatkan lembaga pendidikan tersebut.
Massa ingin SMA Muhammadiyah 3 tetap maju dan dipimpin oleh orang yang legitimate.
Tentu itu melalui proses yang sesuai ketentuan.
Tak ada satu pun guru, lanjutnya, yang menginginkan sekolah rusak bahkan tutup karena konflik internal.
Sudahri juga menyoroti kebijakan yang dinilai menekan para guru tidak tetap (GTT).
Tekanan itu melalui SK yang diteken kepala sekolah.
Itu berisi bahwa sejumlah tenaga pendidik diubah statusnya menjadi tenaga alih daya atau outsourcing.
Padahal status itu tak dikenal dalam sistem pendidikan Muhammadiyah.
“Yang ada di Muhammadiyah adalah guru tetap persyarikatan dan guru tidak tetap,” ujarnya.
Sehingga kebijakan tersebut, lanjut Sudahri, mencerminkan gaya kepemimpinan personal yang terlalu mengontrol.
Kebijakan itu dinilai semena-mena atas dasar keinginan pemimpin untuk mengendalikan bawahannya tanpa kepastian.
Ia juga menyesalkan adanya intimidasi, baik kepada guru maupun para siswa.
Dia mendengar siswa yang ikut aksi akan dikeluarkan dari sekolah.
Padahal, proses penyampaian aspirasi ini sah dan menjadi bagian dari hak setiap warga tanpa memandang statusnya.
"Aspirasi itu hak yang seharusnya dihormati,” tegasnya.
Melalui sambungan telepon, Sony Bakhtiar menanggapi situasi tersebut, Kamis malam.
Sony menyebut, aksi unjuk rasa itu sebagai bagian dari dinamika internal lembaga.
Ia menilai ada pihak yang berusaha memaksakan kehendak untuk menjadi kepala sekolah.
Sony juga membantah tuduhan guru yang ditujukan kepadanya.
“Semua tuduhan itu tidak benar,” katanya.
Setelah terjadinya aksi unjuk rasa, Sony akan segera melakukan evaluasi. Itu juga untuk memikirkan langkah ke depannya.
Ditanya soal apakah akan ada sanksi bagi peserta aksi, pihaknya bakal berkonsultasi kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jember.
“Nanti akan ada mekanisme internal yang berjalan,” terangnya.
Sebagai penanggung jawab SMA Muhammadiyah 3, Sony meminta maaf karena tidak dapat mengantisipasi atau mengetahui hal-hal seperti itu.
Dia mengaku, selama periode pertama atau empat tahun kepemimpinannya, komunikasi selalu terbuka, baik kepada guru maupun siswa.
Dia juga mengklaim rutin mendengarkan keluhan setiap warga sekolah.
“Kami selalu berkomunikasi dan mendengarkan aspirasi mereka. Ketika terjadi hal seperti ini, ini di luar perkiraan kami,” pungkasnya.
Jawa Pos Radar Jember telah berupaya meminta konfirmasi kepada PDM Jember dan PWM Jatim.
Namun, Ketua PDM Jember Prof Aminullah Elhady belum memberikan jawaban hingga pukul 14.30 WIB, kemarin.
Sementara anggota PWM Jatim Hidayatullah juga tidak bisa memberikan keterangan.
“Mohon maaf saya tidak bisa memberi keterangan,” ujarnya singkat.
Pantauan di lapangan kemarin, tidak terlihat aktivitas belajar mengajar (KBM) di SMAM 3 Jember.
Kemarin malam, pihak sekolah memberikan pengumuman aktivitas KBM dilakukan dari rumah.
Siswa kelas X dan XI libur mulai 31 Oktober hingga 6 November.
Sementara siswa kelas XII libur mulai 31 Oktober dan masuk kembali tanggal 3 November untuk mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA). (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh