Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kurangi Risiko Bullying sejak Dini! Psikolog Jember Ini Ungkap Pentingnya Family Time untuk Pantau Perubahan Sikap Anak

Yulio Faruq Akhmadi • Kamis, 30 Oktober 2025 | 13:25 WIB
BERSAMA: Psikolog RSUK dan Dosen PG Paud Unmuh Jember, Nuraini Kusumaningtyas, memberikan materi tentang pentingnya peran keluarga pada tumbuh kembang anak.
BERSAMA: Psikolog RSUK dan Dosen PG Paud Unmuh Jember, Nuraini Kusumaningtyas, memberikan materi tentang pentingnya peran keluarga pada tumbuh kembang anak.

 

Radar Jember - Menghabiskan waktu bersama keluarga atau family time menjadi sarana membangun komunikasi dan kelekatan emosional di dalam keluarga.

Bahkan, dari hubungan itu bisa menjadi benteng kuat dalam mencegah perilaku bullying atau perundungan.

Psikolog Klinis RSU Kaliwates, Nuraini Kusumaningtyas, mengatakan, kasus perundungan paling sering terjadi pada usia remaja, sekitar 15 tahun ke atas.

Namun, ia menekankan pentingnya pencegahan sejak dini.

“Kalau anak tumbuh di keluarga yang menjalankan fungsinya dengan baik, itu akan mencegah anak terlibat dalam perilaku bullying, baik sebagai korban maupun pelaku,” ujarnya.

Nuraini menjelaskan, family time menjadi momen bagi orang tua untuk mengenali lebih dalam karakter dan perilaku anak.

Dengan memahami kebiasaan anak, orang tua bisa lebih cepat mendeteksi perubahan sekecil apa pun.

Dengan demikian orang tua dapat melakukan deteksi dini pada permasalahan yang dihadapi anak.

“Kalau biasanya anak suka ngobrol, lalu berubah jadi lebih banyak diam, orang tua harus peka. Itu mencegah masalah anak jadi lebih serius,” tutur Nuraini yang juga dosen PG PAUD Universitas Muhammadiyah Jember.

Selain sebagai bentuk kedekatan emosional, waktu berkualitas bersama keluarga juga menjadi ruang bagi anak untuk belajar berkomunikasi dan mengekspresikan diri.

Menurut Nuraini, kemampuan komunikasi anak terbentuk dari kebiasaan di rumah, tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga bisa melalui tulisan, gambar, atau pesan singkat.

“Yang penting anak tahu, apa pun bentuk komunikasinya, ada orang tua yang siap mendengarkan. Intinya anak tidak merasa sendirian,” tambahnya.

Lebih jauh, jika orang tua menduga anaknya menjadi korban bullying, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah hadir sebagai pendengar tanpa menghakimi.

Founder Biro Psikologi Rumah Kecil itu juga menegaskan pentingnya membekali anak dengan resiliensi atau kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan bangkit.

Sehingga anak yang menjadi korban bullying bisa bangkit setelah mengalami tekanan. (yul/c2/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#bullying #Unmuh Jember #RSU Kaliwates #parenting #family time