Radar Jember – Kabupaten Jember masih menjadi salah satu daerah dengan angka kasus HIV tertinggi di Jawa Timur.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, daerah ini menempati peringkat ketiga di provinsi. Hingga Oktober 2025, sudah ada sekitar 200 kasus baru yang terdeteksi.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Jember, Akhmad Helmi Luqman, mengatakan tingginya angka tersebut bukan semata karena penyebaran yang meluas, melainkan hasil dari deteksi dini yang aktif dilakukan oleh pihaknya.
“HIV kita nomor tiga di Jawa Timur. Tapi ini juga karena kita aktif melakukan screening. Belum tentu daerah lain lebih rendah karena bisa jadi belum terdeteksi,” jelasnya, Senin (28/10).
Menurut Helmi, penderita HIV di Jember mayoritas berasal dari usia produktif antara 25 hingga 45 tahun.
Penularan paling banyak disebabkan oleh penggunaan narkoba suntik, hubungan seks bebas, dan hubungan sesama jenis.
“Penyebabnya beragam, tapi paling banyak karena obat-obatan dan penularan dari orang terdekat. Kalau dari keturunan, jumlahnya relatif kecil,” ujarnya.
Selain itu, HIV juga kerap muncul bersamaan dengan penyakit tuberkulosis (TBC) akibat daya tahan tubuh penderita yang menurun.
Dari seluruh wilayah di Jember, Kecamatan Puger tercatat memiliki jumlah kasus HIV tertinggi.
Meski demikian, Dinkes Jember terus berupaya melakukan pendampingan dan edukasi kepada para penderita agar rutin berobat dan tidak menularkan virus kepada orang lain.
“Harapannya mereka tetap kita pantau dan terus diedukasi agar rutin minum obat. Ini penting untuk menekan penularan,” terang Helmi.
Tak hanya fokus pada kesehatan, pemerintah juga memberikan dukungan ekonomi bagi penderita HIV.
Dinkes Jember bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan menjalankan program pemberdayaan melalui usaha laundry. Setiap kelompok terdiri dari 10 orang yang difasilitasi mesin cuci dan perlengkapan pendukung.
“Mereka diberdayakan agar bisa mandiri. Kesehatannya sudah ditanggung pemerintah, dan untuk kebutuhan sehari-hari mereka bisa bekerja dari rumah,” katanya.
Ke depan, Dinkes Jember berencana memperluas program screening dengan menyasar sekolah dan pondok pesantren. Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Bupati Jember.
Helmi menegaskan pentingnya menghapus stigma negatif terhadap penderita HIV yang masih kerap muncul di masyarakat.“Kita harus pantau tanpa mempermalukan. Jangan menstigma mereka, karena itu justru menghambat proses pemulihan,” tegasnya.
Meski peringkat Jember di level provinsi belum berubah dibanding tahun 2024, Dinkes menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan edukasi dan pendampingan agar penyebaran HIV bisa ditekan lebih efektif.
Editor : M. Ainul Budi