Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Perajin Terasi Bertahan di Tengah Sulitnya Bahan Baku Enggan Menamakan Terasi Asli Puger Jember

Sidkin • Kamis, 30 Oktober 2025 | 13:50 WIB
TETAP BERTAHAN: Sunaria memproduksi terasi di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger.
TETAP BERTAHAN: Sunaria memproduksi terasi di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger.

Radar Jember - Ketika banyak usaha kecil gulung tikar karena bahan baku langka, Sunaria memilih bertahan.

Di usianya yang tak lagi muda, perajin terasi asal Puger ini tetap setia pada pekerjaannya.

Menolak berhenti meski laut yang dulu memberinya rezeki kini seperti pelit berbagi.

Meski tinggal di kawasan yang dikenal kaya hasil laut, Sunaria, 60, kini menghadapi tantangan berat.

Udang rebon, bahan baku utama terasi, semakin sulit ditemukan di Puger.

Ia terpaksa mendatangkan bahan baku dari Tuban dan Gresik, dua daerah yang jaraknya ratusan kilometer dari rumahnya.

Meskipun begitu, baginya tidak ada pilihan selain bertahan.

Kelangkaan udang rebon Puger sudah berlangsung sekitar tujuh tahun terakhir.

Sunaria masih ingat masa-masa ketika udang kecil itu menumpuk di tempat para nelayan setiap pagi.

Kini, setiap kali bahan baku datang dari luar daerah, ia selalu membandingkan rasanya.

Udang dari Puger, katanya, jauh lebih manis dan gurih, memberi aroma khas yang tak bisa ditiru.

“Rasanya beda,” ungkapnya.

Bahan baku dari luar kota itu kemudian ia olah dengan cara tradisional yang tak pernah ia ubah sejak pertama kali membuat terasi sepuluh tahun lalu.

Udang basah dijemur di bawah matahari, lalu digiling, dijemur kembali, dan digiling sekali lagi hingga mengeluarkan aroma khas laut.

“Setelah penggilingan kedua, terasi ditumbuk secara manual untuk menghasilkan tekstur yang lebih baik. Kalau pakai mesin terus, hasilnya kurang bagus, cepat kering. Jadi tahap akhir saya tumbuk manual,” jelasnya.

Proses itu memakan waktu hingga tiga hari, bergantung pada cuaca.

Dalam satu kali produksi, Sunaria bisa menghasilkan sekitar 450 kilogram terasi dari 1,5 ton udang basah.

Semua dilakukan di halaman rumahnya, di bawah terik matahari yang kadang tak bersahabat.

Setelah matang dan dikemas rapi, terasi buatannya dijual seharga Rp 60 ribu per kilogram.

Ia tak perlu memasarkan sendiri. Para tengkulak dari berbagai daerah sudah rutin datang menjemput produknya untuk dijual ke pasar hingga luar pulau.

“Saya jual di sini saja, sudah ada yang ambil. Biasanya mereka membeli untuk dikirim luar kota bahkan luar pulau seperti Kalimantan dan Papua,” ujarnya.

Bagi lansia asal Desa Puger Kulon ini, membuat terasi bukan hanya soal mencari nafkah, tapi juga menjaga warisan rasa dan kejujuran.

Meski bahan bakunya kini bukan lagi dari laut Puger, ia enggan menamakan produknya sebagai terasi asli Puger.

Sunaria percaya, kejujuran kepada pembeli adalah cita rasa terbaik dari usahanya.

Di tengah perubahan alam dan zaman, Sunaria tetap setia dengan prinsipnya: menjaga rasa, menjaga nama, dan menjaga semangat hidup dari laut yang mulai sepi. (kin/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #puger #udang rebon #terasi