Radar Jember – Makna Sumpah Pemuda tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan harus terus dihidupkan dalam konteks zaman yang berubah.
Hal itu disampaikan oleh Dr Iffan Gallant El Muhammady, dosen Ilmu Pemerintahan Unmuh Jember.
Menurutnya, Sumpah Pemuda merupakan tonggak kesadaran bangsa bahwa kemerdekaan lahir dari kemampuan melampaui perbedaan.
“Kalau pada 1928 semangat itu diwujudkan lewat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, maka sekarang maknanya bergeser menjadi kesediaan untuk merawat kebinekaan di tengah kompleksitas dunia digital dan globalisasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi nilai hidup (living value) yang harus terus diartikan ulang sesuai tantangan zaman.
Dr Iffan menjelaskan, nilai-nilai yang terkandung dalam Sumpah Pemuda tetap relevan bagi generasi muda masa kini.
Ada tiga fondasi penting yang perlu dijaga, di antaranya identitas, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
“Di era banjir informasi, anak muda sering dihadapkan pada narasi yang bisa memecah belah. Karena itu, menjaga satu bahasa berarti membangun komunikasi yang baik, menjaga satu bangsa berarti menolak intoleransi, dan menjaga satu tanah air berarti memastikan keadilan sosial merata di seluruh daerah,” paparnya.
Ia juga menyoroti perbedaan karakter antara generasi 90-an dan generasi sekarang.
Menurutnya, pemuda masa kini jauh lebih kreatif, terbuka, dan kritis karena lahir di era digital. Namun, mereka juga lebih rentan terhadap disinformasi dan polarisasi sosial.
“Kalau dulu idealisme diwujudkan lewat demonstrasi, sekarang lewat digital activism, startup sosial, atau gerakan berbasis data. Tapi semangat dasarnya tetap sama, keinginan berbuat bagi bangsa,” katanya.
Lebih jauh, Iffan menilai tantangan terbesar pemuda saat ini adalah menjaga semangat persatuan di tengah fragmentasi ruang digital.
Media sosial menciptakan gelembung opini yang membuat orang hanya mau mendengar yang sejalan dengannya.
“Di sinilah pentingnya literasi digital dan etika bermedia. Itu bentuk baru dari sumpah menjaga persatuan di era teknologi,” tegasnya.
Menurutnya, kampus memiliki peran penting untuk menanamkan kembali semangat Sumpah Pemuda.
Ia menyebut perguruan tinggi harus menjadi laboratorium kebangsaan yang menumbuhkan dialog lintas pandangan.
“Nilai kebangsaan perlu diintegrasikan dalam kurikulum, kegiatan mahasiswa, dan riset sosial. Semangat Sumpah Pemuda jangan hanya diperingati tiap 28 Oktober, tapi dijalani setiap hari dalam perilaku akademik, sosial, dan digital,” jelasnya.
Ia juga mencontohkan berbagai bentuk nyata kontribusi pemuda masa kini yang sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda.
Bisa melalui gerakan literasi digital, program lingkungan, hingga startup sosial yang membantu masyarakat.
“Mahasiswa bisa mengembangkan dashboard data untuk partisipasi publik di desa atau mengedukasi warga tentang bahaya hoaks dan politik uang,” ungkapnya.
Dr Iffan menegaskan bahwa cinta tanah air di era modern tidak cukup ditunjukkan dengan simbol, tapi harus diwujudkan lewat karya, empati, dan kontribusi nyata.
“Sumpah Pemuda zaman sekarang bukan hanya soal bendera dan lagu kebangsaan, tapi bagaimana kita menggunakan pengetahuan dan teknologi untuk memperkuat bangsa. Itu sumpah baru anak muda Indonesia,” pungkasnya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh