Radar Jember - Aplikasi hijau sejatinya diciptakan untuk menjalin pertemanan dengan orang lain, yang lokasinya tidak jauh berkat fitur pengguna sekitar.
Namun aplikasi ini justru menjelma jadi ruang transaksi terselubung dan penipuan.
Belakangan, semakin banyak penipu yang bersarang di aplikasi tersebut.
Seorang pengguna berinisial S mengaku telah beberapa kali menjadi korban.
Modusnya beragam. Ada yang berpura-pura sebagai pekerja seks komersial (PSK) lalu meminta uang muka transfer sebelum bertemu.
Setelah uang dikirim, akun pelaku langsung menghilang.
“Dia minta transfer dulu Rp 200 ribu, katanya buat jaminan. Setelah saya kirim, malah diblokir,” tuturnya.
Namun, uang bukan satu-satunya yang jadi sasaran.
Penipuan di aplikasi hijau juga berupa foto PSK yang terpampang di aplikasi jauh dari wujud aslinya.
“Di fotonya cantik dan muda, ternyata pas ketemu sudah berumur,” lanjut S.
Dia mengaku pernah berbincang langsung dengan salah satu PSK.
Dari percakapan itu terungkap, di sepanjang jalur kota-kota besar seperti Banyuwangi, Jember, hingga Surabaya, banyak akun PSK yang menggunakan foto palsu.
“Katanya sudah ada agensinya gitu, jadi PSK ini tidak pegang akunnya secara langsung, mereka hanya standby di kamar,” jelasnya.
Nah, fenomena ini menunjukkan, penyalahgunaan aplikasi hijau yang telah melewati batas.
Bukan hanya soal prostitusi melalui daring, tapi juga penipuan yang sistematis dengan pola yang kian rapi.
Lantas, apakah hal-hal seperti ini dibiarkan. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh