Radar Jember - Aplikasi hijau atau apa pun warnanya, banyak dimanfaatkan PSK untuk jual diri.
Fakta ini tak terbantahkan, bahwa mayoritas PSK masa kini tak lagi terlokalisasi.
Lantas, mengapa semua diam? Aplikasinya juga aman, dan sepertinya tiada penindakan. Berikut, fakta-fakta yang terungkap dari investigasi di lapangan.
Open booking (BO). Istilah ini bukanlah rahasia di Jember atau pun di Indonesia.
Hanya saja, sebagian orang mungkin tabu untuk menyebutnya.
Namun fakta yang terjadi, kata-kata ini banyak dipakai oleh penjaja seks komersial (PSK) dan pembelinya. Bahkan, di aplikasi hijau atau warna lain, banyak PSK yang update status, namun kita bisa apa?
Sejak zaman dulu, dunia esek-esek memang tak lekang oleh waktu. Namun, penekanan agar angkanya tak semakin banyak, perlu dilakukan.
Dulu, PSK terkenal dengan mereka yang terlokalisasi seperti di Besini, Kecamatan Puger, atau tempat lain.
Namun, fakta terkini, jumlah PSK yang ada di tempat terlokalisasi bisa dibilang kalah banyak dengan jumlah PSK yang ada di rumah-rumah, di tempat kos-kosan, dan di hotel-hotel.
Mereka ini, ada yang tetap memiliki atasan, mami-papi, atau apa pun sebutannya.
Namun, tak sedikit pula yang jual diri secara mandiri sehingga tidak terikat oleh siapa pun.
Bahkan, PSK masa kini tak hanya berdiam di satu tempat, tetapi banyak PSK yang keliling kota/kabupaten.
Kadang di Jember, di sekitar Tapal Kuda, kadang di Surabaya, mereka keliling sesukanya.
Fakta menarik yang juga terjadi, PSK masa kini yang memanfaatkan aplikasi hijau memiliki latar belakang yang variatif.
Pemesanan mereka tergolong mudah, bisa lewat mana saja, seperti investigasi di jalan-jalan yang dilakukan Jawa Pos Radar Jember, dan pesan kapan saja, bisa.
Baca Juga: Tips Wisata Semi Trekking Di Air Terjun Tancak Panti Jember, Simak Biar Kamu Gak Nyesel!
Dampak Kesehatan Kian Terancam
Tentu, ini peradaban yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Dulu, PSK mayoritas terlokalisasi di satu tempat, namun kini mayoritas PSK tak lagi tinggal di satu kawasan seperti di Besini.
Jika di Besini data tahun 2022 hingga sekarang ada 70-an PSK, di luar Besini jumlahnya bisa berlipat-lipat.
Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah mengenai hal ini? Bagaimana menyikapi aplikasi hijau yang dipakai untuk sarana awal transaksi esek-esek?
Ini, menunjukkan banyaknya perubahan peradaban yang juga membutuhkan perubahan terhadap cara-cara penanganannya.
Misalnya, pengendalian HIV/Aids akibat seks bebas pasti menjadi semakin sulit.
Ini lantaran mereka yang menjadi PSK tak bisa lagi terkontrol seperti yang terlokalisasi di Besini.
Namun, mereka berseliweran di rumah-rumah, di tempat kos, dan di hotel-hotel.
Open BO dan Bayar Kian Mudah
Tak bisa dimungkiri bahwa fakta open BO terhadap PSK semakin canggih.
Orang bisa pesan dari mana saja dan kapan saja. Bahkan, pembayarannya bervariasi.
Ada yang mengharuskan transfer di depan dan ada yang bisa langsung bayar di tempat.
Meski dalam beberapa kasus ada yang curhat penipuan di balik ini, namun itu hanya sekian persen saja.
Pemesanan melalui aplikasi hijau atau warna lain bahkan telah menawarkan jarak pada tempat yang dipesan.
Istilah short time, long time, juga telah marak dipakai oleh penjual dan pembeli jasa esek-esek menyesuaikan durasi “main”.
Ironisnya, mereka dengan bebas melakukan itu, dan mereka tak terkontrol.
Hasil penelusuran Jawa Pos Radar Jember, di beberapa lokasi di Jember, banyak sekali PSK yang telah siap tempat atau pun siap ikut pada pemesan open BO.
Bahkan, ada pula PSK yang siap open BO, dan bermain esek-esek di dalam mobil.
Lantas, akankah fenomena baru ini dibiarkan begitu saja? Sudah bertahun-tahun, sangat minim penertiban terhadap transaksi esek-esek melalui aplikasi ini.
Untuk itu, perlu cara-cara baru untuk menangani perubahan zaman dunia esek-esek ini. (*)
Editor : Imron Hidayatullahh