Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Musim Hujan Bikin Petani Merana! Harga Tembakau Jember Anjlok dari Rp11 Juta Jadi Rp 5 Juta per Kuintal

Sidkin • Jumat, 24 Oktober 2025 | 13:00 WIB
PANEN TAK MAKSIMAL: Ranto, petani tembakau Kasturi asal Antirogo, Patrang, memeriksa tanamannya. Musim hujan ini, harga tembakaunya dihargai murah.
PANEN TAK MAKSIMAL: Ranto, petani tembakau Kasturi asal Antirogo, Patrang, memeriksa tanamannya. Musim hujan ini, harga tembakaunya dihargai murah.

Radar Jember – Pemberdayaan dan perlindungan terhadap petani tembakau layak dilakukan secara maksimal.

Apalagi, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dari pemerintah pusat untuk Pemkab Jember tergolong besar, meskipun dipangkas.

Namun, hasil kerja keras petani tembakau layak diimbangi dengan pemberdayaan yang baik agar petani tidak rugi.

Terbaru, akibat salah perhitungan terhadap prakiraan cuaca, sebelum tembakau selesai di panen semua, ternyata sudah musim hujan.

Ini membuat harga tembakau terjun signifikan. Dulunya, harga tembakau untuk satu kuintal tembakau kering bisa mencapai antara Rp 9 sampai Rp 11 juta.

Namun, beberapa hari terakhir hanya di angka Rp 5,5 juta per kuintal. Kalaupun lebih mahal, sangat sulit untuk menyentuh harga Rp 7 juta.

Seperti diketahui, hujan nyaris tanpa jeda di Jember dan hampir setiap sore turun hujan. Ini membuat hati para petani tembakau ikut layu.

Bahkan, daun-daun yang mestinya mengering indah di bawah matahari justru membusuk di pengeringan rumah-rumah petani.

Bagi mereka, musim ini terasa seperti ujian panjang yang datang bertubi-tubi.

Panen tak maksimal, biaya membengkak, dan harga jual justru terjun bebas.

Surami, petani asal Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, menyebut, tahun ini sebagai musim paling berat selama beberapa tahun ia menanam tembakau.

Kondisi hujan menyebabkan pertumbuhan tembakau tidak maksimal. Pengeringan pun juga tidak bisa menghasilkan kualitas tembakau kering yang terbaik.

"Daunnya lembek, warnanya tidak bagus. Harganya pun ikut turun. Sekarang hanya kisaran Rp 5,5 juta per kuintal tembakau kering," ujarnya.

Masalah yang sama terjadi di berbagai wilayah penghasil tembakau Jember seperti Arjasa, Jelbuk, Kaliwates, Patrang, hingga Ambulu.

Jenis tembakau Na-Oogst yang seharusnya dipanen akhir musim justru terjebak di tengah cuaca basah.

Sementara para petani yang menanam tembakau kasturi harus menelan pahit harga yang tak kunjung naik.

Alhasil, banyak petani memaksakan panen agar daun tak makin rusak, meski kualitasnya menurun drastis.

“Petikan terakhir ini banyak yang busuk. Biasanya bisa lima kali petik bagus, sekarang mentok empat kali saja. Sedangkan yang sudah di akhir itu tidak laku," imbuhnya.

Ranto, petani tembakau Kasturi asal Antirogo, Patrang juga bernasib sama. Tahun ini, tembakau yang ia tanam tidak menghasilkan untung banyak.

Padahal, tahun lalu, harga tembakau kasturi dihargai mahal. Per kuintal tembakau kering bisa sampai belasan juta.

"Kemarin kirim ke penjual, harganya hanya Rp 6,7 juta. Sangat jauh dari harga tahun lalu," ungkapnya.

Padahal, biaya produksi tembakau juga tidak murah. Mulai bibit, tanam, perawatan hingga pemupukan.

Namun, dia tidak bisa berbuat banyak. Hanya berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah maupun pabrikan untuk menstabilkan harga tembakau.

“Kalau terus begini, petani kecil bisa berhenti nanam tembakau. Bisa jadi tahun depan, yang menanam akan semakin sedikit," katanya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jember, Suwarno, menilai penurunan harga tembakau tahun ini disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem.

Hujan yang turun hampir sepanjang musim tanam membuat daun tembakau sulit dikeringkan dengan baik sehingga kualitasnya menurun. Dampaknya, harga jual di tingkat petani ikut merosot.

Dia menyebut, tahun lalu, saat cuacanya bagus, harga kasturi bisa sampai Rp 8,5 hingga Rp 9 juta per kuintal. Namun, tahun ini harga top grade-nya Rp 7,5 juta.

"Apalagi sekarang hujan terus, harganya turun hampir separuh. Tetapi sebenarnya itu masih aman. Masih ada untung meskipun sedikit," katanya.

Sebagian besar petani, lanjutnya, sudah selesai memanen. Namun ada sejumlah petani tembakau yang masih belum selesai memanen dan mengeringkannya.

Kondisi ini bisa menyebabkan kerugian. Apalagi terdengar kabar gudang tembakau bakal tutup dalam waktu dekat.

"Kalau panen awal memang aman. Tapi yang masih panen atau ada tembakau yang dikeringkan, ini susah. Selain pengeringan tidak maksimal karena hujan, informasinya gudang juga akan tutup. Jadi sulit untuk dijual," ujarnya.

Dengan adanya masa tanam yang belum tuntas panen telah masuk musim hujan, selayaknya ada penguatan pemberdayaan agar bisa memprediksi cuaca.

Kapan musim panas berakhir dan kapan musim hujan turun setiap hari.

Dengan demikian, pencegahan kerugian bisa dilakukan dan kerugian akibat hujan tidak menjadi langganan setiap tahun. (kin/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#tembakau #Jember #DBHCHT