Radar Jember – Sastra tidak sekedar karya imajinatif, juga tidak hanya sebatas membuat cerpen, puisi, ataupun pantun.
Tapi karya sastra adalah artefak kebudayaan yang punya kontribusi besar bagi kemanusiaan.
Inilah narasi yang dibangun oleh Prof Dr Akhmad Taufiq, Guru Besar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej) yang baru dikukuhkan, kemarin (21/10) tersebut.
Orasi ilmiah itu berjudul Sastra, Narasi Identitas, dan Imajinasi Politik Kebangsaan, Rekonstruksi Teks Sastra dalam Agenda Politik Multikultural Indonesia.
Ia menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting dalam membangun kesadaran multikultural bangsa.
“Sastra bukan sekadar karya imajinatif, melainkan artefak kebudayaan yang memberi kontribusi besar bagi kemanusiaan,” ujarnya.
Guru Besar bidang Sastra dan Pembelajarannya ini menambahkan, teks sastra dapat menjadi medium untuk mempelajari bagaimana bangsa multikultural seperti Indonesia diimajinasikan.
Melalui penelitian dan pembelajaran sastra multikultural, ia berupaya menanamkan nilai keberagaman di dunia pendidikan.
Perjalanan akademik Taufiq dimulai sejak 1992 di Fakultas Sastra Unej.
Ia melanjutkan studi S-2 dan S-3 di Universitas Negeri Surabaya, sembari aktif menulis puisi.
“Saya menjalani dua jalur sastra, akademik dan kreatif. Keduanya saling menguatkan,” katanya.
Selain dikenal di dunia akademik, Taufiq juga aktif di organisasi sosial-keagamaan.
Ia menjabat Wakil Ketua PC Nahdlatul Ulama (NU) Jember dan pernah memimpin IKA PMII Jember.
Beragam penghargaan pernah ia raih, di antaranya Anugerah Puisi Dunia Numera Malaysia (2014), Satyalancana Karya Satya dari Presiden RI (2017), serta dua kali Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur.
Selain Taufiq, Rektor Unej Iwan Taruna juga mengukuhkan lima guru besar lainnya.
Prof Ir Kacung Hariyono (Faperta), Prof Dr Elok Sri Utami (FEB), Prof Dr Zainuri (FEB), Prof Dr Ir Herlina (FTP), dan Prof Dr Edy Supriyanto (FMIPA). (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh