RADAR JEMBER – Awal pekan di Jember disambut dengan kabar yang membuat para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner harus mengelus dada.
Harga si 'kecil merah' yang menjadi bumbu wajib, cabai rawit, melambung tak terkendali, seolah menampar daya beli masyarakat.
Pemandangan di sejumlah pasar induk seperti Pasar Tanjung dan Pasar Kreongan pada Senin (20/10/2025) terasa berbeda.
Harga cabai rawit yang pekan lalu masih ramah di kantong pada level Rp 50.000-an, kini sukses 'terbang' dan menancap di angka psikologis baru: Rp 80.000 per kilogram. Sebuah guncangan harga yang terasa begitu tiba-tiba.
"Mau bagaimana lagi, Mas? Dari tengkulak sudah tinggi harganya. Pasokan katanya langka. Pembeli yang biasa beli seperempat kilo, sekarang banyak yang mikir-mikir dulu," keluh Sulastri, seorang pedagang yang sudah puluhan tahun berjualan di Pasar Tanjung.
Wajahnya pasrah, tangannya menunjuk tumpukan cabai yang tak seramai biasanya.
Jeritan serupa datang dari barisan pembeli. Wati, seorang ibu dengan dua anak, terpaksa mengubah rencana menu masakan hari ini.
"Syok saya. Ini harga sudah tidak masuk akal. Padahal keluarga di rumah semua suka pedas. Terpaksa dikurangi jatah sambalnya," ujarnya dengan nada getir.
Pihak berwenang, melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember, mengidentifikasi biang keladi dari lonjakan harga ini.
Anomali cuaca yang mendera sentra-sentra produksi cabai diyakini menjadi pemicu utama gagal panen, yang berimbas langsung pada menipisnya pasokan yang masuk ke Jember.
Kini, mata publik tertuju pada langkah pemerintah untuk menstabilkan harga komoditas yang kini terasa mewah tersebut.
Sementara itu, di dapur-dapur warga Jember, rasa pedas untuk sementara waktu mungkin harus dibayar dengan harga yang jauh lebih mahal.