Radar Jember - Banyaknya kejadian pohon tumbang saat hujan deras disertai angin kencang membuat Pemkab Jember meningkatkan mitigasi bencana.
Salah satu upaya yang kini dilakukan adalah pengeprasan pohon di sejumlah titik rawan di kawasan kota.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko pohon tumbang maupun ranting patah yang kerap membahayakan pengguna jalan dan warga sekitar.
Jalan Jawa dan Kalimantan di Kecamatan Sumbersari menjadi titik awal pelaksanaan pengeprasan, kemarin. Lalu disusul Jalan Karimata dan S. Parman pada Rabu mendatang.
Pengeprasan ini melibatkan sejumlah OPD sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana.
Kepala BPBD Jember Indra Tri Purnomo mengatakan, saat ini fokus utama masih pada kawasan kota. Terutama di jalan lingkar kampus.
Pelaksanaan pengeprasan, kata dia, dilakukan dua kali dalam sepekan sebagai uji efektivitas dan efisiensi.
Jika dinilai berhasil, kegiatan ini akan diperluas ke wilayah pinggiran.
Pengeprasan pohon tidak hanya dilakukan oleh BPBD, tetapi juga melibatkan sejumlah OPD seperti PU Bina Marga, PLN, TNI, Polri, dan Dishub.
Menurutnya, pengeprasan pohon di kota menjadi fokus utama karena tinggi risiko tumbang.
"Seperti pohon yang terlalu tinggi dan rimbun. Sementara pohon dengan risiko roboh akan dipotong," katanya.
Upaya ini, lanjutnya, diharapkan mampu meminimalisasi potensi bencana pohon tumbang.
Apalagi yang sering terjadi saat hujan deras dan angin kencang.
Indra menyebut, tidak ada target jumlah pohon yang harus dipotong.
Fokusnya pada titik-titik rawan yang sudah terpetakan.
“Yang pasti yang sudah terbaca titik risiko bencananya,” tegasnya.
Pengeprasan juga dilakukan berdasarkan usulan masyarakat melalui kecamatan.
Banyak warga yang mengajukan permohonan pengeprasan terutama di kawasan padat permukiman dan lalu lintas.
Menurut Indra, kegiatan ini menjadi bagian dari mitigasi bencana di tengah musim cuaca ekstrem.
“Saat ini kita memasuki bulan ekstrem cuaca. Dari pagi panas sekali, siang mendung, dan sore hujan lebat disertai angin,” jelasnya.
Kondisi itu meningkatkan risiko pohon tumbang yang dapat membahayakan keselamatan warga.
Oleh karena itu, antisipasi dini melalui pengeprasan dianggap sangat penting.
Indra juga mengimbau kepada masyarakat untuk ikut peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar.
“Kalau tidak ada kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan, kami di BPBD tidak mampu menangani bencana sendiri,” ujarnya.
Warga diharapkan dapat melakukan pengeprasan secara swadaya jika memungkinkan.
“Kalau memang tidak mampu, kami siap membantu, bahkan meminjamkan alat. Tapi tetap dalam kontrol dari BPBD,” pungkasnya. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh