Radar Jember - Pasca tragedi ambruknya bangunan musala di salah satu pesantren di Jawa Timur, Kementerian Agama (Kemenag) Jember memperkuat koordinasi dengan pondok pesantren di wilayahnya.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk evaluasi bersama sekaligus memastikan setiap pesantren memiliki bangunan yang aman dan layak bagi santri.
Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Jember Akhmad Mustain Billah menyampaikan bahwa kejadian tersebut menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.
Menurutnya, pengawasan terhadap pembangunan fisik di lingkungan pesantren tidak bisa dilakukan secara sporadis, melainkan harus terencana dan berkelanjutan.
“Tragedi itu menjadi pengingat agar kita tidak abai terhadap aspek keamanan. Karena itu, kami terus melakukan evaluasi rutin, sekaligus memperkuat koordinasi dengan para pengasuh pesantren di Jember,” ujarnya.
Mustain menjelaskan, selama ini Kemenag Jember telah memiliki sistem monitoring dan evaluasi pesantren yang dijalankan secara berkala.
Sistem ini mencakup pembaruan data sarana prasarana (sarpras).
“Dalam sistem tersebut, kondisi fisik bangunan juga terpantau, jadi bukan hanya administrasi,” tambahnya.
Selain melalui sistem digital, Kemenag juga melakukan visitasi langsung ke sejumlah pesantren untuk meninjau kondisi sarpras di lapangan.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif untuk memastikan data sesuai dengan kondisi nyata, sekaligus memberi masukan teknis bagi pesantren yang tengah melakukan pembangunan atau renovasi.
Koordinasi dengan pengasuh dan yayasan pesantren pun terus diperkuat melalui forum komunikasi rutin.
Dalam forum tersebut, Kemenag memberikan edukasi terkait pentingnya izin bangunan, standar keamanan, serta tata kelola pembangunan sesuai aturan pemerintah daerah.
“Kami ingin memastikan semua pesantren di Jember tertib administrasi dan aman bagi para santri. Koordinasi dan evaluasi rutin ini menjadi bagian dari tanggung jawab bersama,” tutur Mustain.
Ia menegaskan, langkah ini bukan semata reaksi atas peristiwa yang terjadi di daerah lain, melainkan upaya berkelanjutan untuk menjaga mutu pesantren di Jember.
“Pesantren adalah pusat pendidikan dan pembinaan karakter. Maka keamanan dan kelayakan bangunannya harus selalu menjadi perhatian utama,” pungkasnya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh