Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kejar Trending Bisa Hancurkan Etika Jurnalistik, Dr Kun Wazis Ingatkan Media Pegang Prinsip CCTV

M Adhi Surya • Rabu, 15 Oktober 2025 | 13:45 WIB
 “Media yang sehat pasti memegang prinsip cek, cermati, teliti, verifikasi atau saya sebut CCTV.” Dr KUN WAZIS, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN KHAS Jember.
 “Media yang sehat pasti memegang prinsip cek, cermati, teliti, verifikasi atau saya sebut CCTV.” Dr KUN WAZIS, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN KHAS Jember.

Radar Jember - Fenomena pemberitaan seputar tragedi yang menimpa Pondok Pesantren Al Khoziny, beberapa waktu terakhir, menuai perhatian luas.

Hampir semua kanal media, baik yang bersifat mainstream maupun nonjurnalistik, berlomba-lomba menyoroti isu tersebut.

Istilah pesantren sempat menjadi kata kunci paling sering dicari di laman Google.

Pakar Komunikasi Publik dari UIN KHAS Jember, Dr Kun Wazis, menjelaskan, dalam konteks etika jurnalistik, langkah menjadikan isu yang sedang ramai di Google sebagai dasar utama menentukan angle berita bukanlah tindakan yang ideal.

Media, kata dia, memang boleh mengikuti isu populer, tapi tetap harus berpijak pada prinsip kebenaran dan kepentingan publik.

“Kalau semua berita hanya mengikuti apa yang trending, maka media kehilangan fungsi kontrol sosial dan edukatifnya,” tegasnya.

Ia juga menyoroti risiko serius jika media terlalu berfokus pada popularitas di mesin pencari.

Akibatnya, kualitas informasi bisa menurun dan kepercayaan publik terhadap media makin luntur.

“Ketika media mengabaikan verifikasi dan keberimbangan, maka publik akan menilai semua berita sama saja antara yang benar dan yang palsu jadi kabur,” jelasnya.

Untuk membedakan media yang benar-benar menjalankan fungsi jurnalistik dengan yang sekadar mengikuti algoritma.

 Kun Wazis menekankan pentingnya menilai dari proses kerja dan akurasi beritanya.

“Media yang sehat pasti memegang prinsip cek, cermati, teliti, verifikasi atau saya sebut CCTV,” ujarnya.

Prinsip itu, lanjutnya, adalah fondasi agar jurnalis tidak mudah tergoda dengan kecepatan atau kepentingan viral.

Selain itu, Kun Wazis mengingatkan bahwa di era akal imitasi (AI), kemampuan teknologi meniru pernyataan seseorang membuat proses verifikasi menjadi semakin krusial.

“Sekarang banyak konten yang terlihat nyata padahal hasil rekayasa. Karena itu, setiap jurnalis wajib menerapkan CCTV, bukan hanya 5W+1H,” tambahnya.

Sebagai Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN KHAS Jember ini, Kun Wazis menilai fenomena ini dapat dikategorikan sebagai bentuk crisis of journalism ethics di era digital.

Algoritma dan SEO kini lebih menentukan arah redaksi dibanding nilai-nilai berita itu sendiri.

“Media harus sadar, eksistensi digital penting, tapi jangan sampai kehilangan idealisme. Karena ketika etika hilang, jurnalisme berubah menjadi sekadar produksi konten,” tegasnya.

Kun Wazis berharap, ke depan media mampu menyeimbangkan antara kebutuhan eksistensi digital dan tanggung jawab sosial.

“Kalau budaya jurnalistik instan ini terus dibiarkan, maka masyarakat akan kehilangan kepercayaan. Isu diangkat bukan karena penting, tapi karena sedang viral dan itu sangat berbahaya bagi masa depan jurnalisme kita,” pungkasnya. (dhi/dwi)

 

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Algoritma #jurnalistik #media #google #UIN KHAS Jember