Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ahli Teknik Sipil Unmuh Jember: Tembok Tebal Belum Tentu Kuat, Justru Bisa Bikin Bangunan Roboh!

M Adhi Surya • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 13:55 WIB
 “Semakin tebal tembok, belum tentu semakin kokoh. Justru bisa berisiko kalau bebannya melebihi daya dukung struktur.” SENKI DESTA GALUH, Dosen Teknik Sipil Unmuh Jember.
 “Semakin tebal tembok, belum tentu semakin kokoh. Justru bisa berisiko kalau bebannya melebihi daya dukung struktur.” SENKI DESTA GALUH, Dosen Teknik Sipil Unmuh Jember.

Radar Jember - Banyak orang mengira semakin tebal dinding rumah, maka semakin kuat pula bangunannya.

Padahal, anggapan itu keliru besar.

Dalam ilmu konstruksi, kekokohan bangunan tidak ditentukan oleh ketebalan tembok, melainkan oleh kekuatan fondasi, sloof, balok, dan kolom yang menjadi rangka utamanya.

Untuk itu, tragedi di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, patut menjadi pelajaran untuk semua orang.

Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jember, Senki Desta Galuh menegaskan, dinding hanya berfungsi sebagai pembatas ruang, bukan elemen utama penopang struktur.

“Semakin tebal tembok, belum tentu semakin kokoh. Justru bisa berisiko kalau bebannya melebihi daya dukung struktur,” ujarnya.

Menurut Senki Desta, banyak masyarakat masih salah kaprah dengan mempertebal dinding sebagai bentuk antisipasi agar bangunan tidak mudah roboh.

Padahal, cara itu justru menambah beban mati (dead load) yang harus ditanggung oleh struktur bawah.

Jika fondasi, sloof, atau kolom tidak dirancang untuk menahan beban tambahan tersebut, bangunan malah bisa lebih cepat retak atau miring.

Kunci utama bangunan kokoh justru terletak pada rangka strukturalnya.

Fondasi harus menyesuaikan karakteristik tanah, sloof harus menyebarkan beban dengan baik, balok menyalurkan gaya horizontal, dan kolom menopang beban vertikal antar lantai.

Semua unsur itu bekerja seperti tulang dan sendi pada tubuh manusia.

“Kalau tulangnya kuat, tubuhnya akan berdiri tegak, meski kulitnya tipis,” katanya mengibaratkan.

Ia menambahkan, semakin ringan material dinding yang digunakan, maka semakin kecil pula beban yang diterima struktur.

Itulah sebabnya, bata ringan kini banyak diminati di pasaran.

Selain lebih efisien, material ini juga membantu mengurangi risiko penurunan daya dukung fondasi.

“Makanya bata ringan sekarang laku, karena insinyur tahu beban dinding harus seringan mungkin,” jelasnya.

Material modern seperti bata ringan atau panel pracetak juga memiliki keunggulan lain, proses pemasangan cepat, tekanan ke struktur kecil, dan ketahanan cukup tinggi terhadap suhu serta kelembaban.

Namun, pemilihan material tetap harus disesuaikan dengan analisis perencanaan bangunan.

Senki menekankan, menebalkan tembok tanpa memperkuat struktur ibarat menambah beban di pundak tanpa memperbesar otot.

“Bangunan bisa tampak kokoh, tapi di dalamnya lemah. Kalau terjadi gempa atau beban berlebih, tembok justru menjadi titik rawan pertama,” tuturnya.

Fenomena masyarakat yang masih beranggapan tebal itu kuat menjadi PR besar bagi dunia teknik sipil untuk terus memberikan edukasi publik.

Sebab, kesalahan kecil dalam persepsi bangunan bisa berujung pada risiko besar di kemudian hari seperti keretakan, kemiringan, bahkan robohnya bangunan. (dhi/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Unmuh Jember #Teknik Sipil #konstruksi