Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sukirno dan Istri, Lansia yang Tak Menyerah: Dari Buruh Tani Jadi Peracik Gizi Anak Sekolah di Wonosari Jember

M Adhi Surya • Jumat, 10 Oktober 2025 | 14:10 WIB
SEMANGAT: Sukirno bersama sang istri Nanik, menjadi tenaga produksi MBG di SPPG Wonoasri.
SEMANGAT: Sukirno bersama sang istri Nanik, menjadi tenaga produksi MBG di SPPG Wonoasri.

 

Radar Jember - Dentang wajan dan irisan sayur di dapur MBG Wonoasri menjadi saksi kisah Sukirno dan Nanik Lestari.

Dari buruh tani dan ibu rumah tangga, kini mereka menemukan ladang rezeki baru sekaligus kebanggaan bisa ikut memberi gizi untuk generasi penerus.

Suara irisan sayur yang beradu dengan talenan, denting wajan besar yang ditepuk sendok, serta aroma bawang yang ditumis mengepul memenuhi ruang dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Wonoasri, Kecamatan Tempurejo.

Di tengah riuh aktivitas itu, sepasang suami istri tampak larut dalam ritme kesibukan yang tak lagi asing bagi mereka.

Sukirno, 66, setiap pagi bersiap dengan mobil MBG-nya untuk mengantar boks makanan ke sekolah-sekolah.

Di sisi lain, Nanik Lestari, 51, ikut berjibaku memotong sayur, membersihkan bahan, hingga meracik bumbu.

Keduanya seolah menemukan peran baru di usia senja.

Dulu, hidup mereka lebih banyak diwarnai dengan kesederhanaan.

Sukirno hanya seorang buruh tani dengan hasil yang tak menentu, sementara Nanik menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga.

Kini, dapur MBG menjadi ladang penghasilan sekaligus ruang kebersamaan.

“Kalau dulu kerja di sawah, hasilnya tergantung musim. Kadang cukup, kadang tidak. Sekarang alhamdulillah ada tambahan yang lebih pasti,” ucap Sukirno.

Bagi Nanik, pekerjaan barunya bukan sekadar memotong sayur atau mengupas wortel.

Ada kebanggaan tersendiri bisa ikut andil menyediakan makanan sehat untuk anak-anak sekolah.

“Senang rasanya, apalagi bisa kerja bareng suami,” tuturnya dengan senyum.

Kebersamaan itu terasa lengkap karena rumah mereka di RT 1 RW 1 Wonoasri berada tak jauh dari lokasi dapur.

Hampir setiap hari pasangan ini berangkat bersama, lalu pulang sore dengan rasa lelah yang tertutupi kepuasan hati.

Tiga anak mereka pun menyambut dengan bangga.

Meski orang tua sudah berusia lanjut, semangat bekerja dan membantu program sosial memberi teladan tersendiri di mata keluarga.

“Kami ingin menunjukkan, selama masih sehat, bekerja itu ibadah,” kata Sukirno.

Kisah pasangan ini hanyalah satu potret kecil dari banyak warga yang kini terlibat dalam dapur MBG.

Mereka bukan hanya mencari rezeki, tapi juga menemukan arti kebermanfaatan di balik setiap panci besar dan talenan kayu.

Dengan tangan-tangan sederhana seperti milik Sukirno dan Nanik, ribuan boks makanan bergizi tersaji setiap hari.

Dari dapur yang riuh oleh suara sayur teriris dan wajan beradu, mengalir pula cerita tulus tentang kerja keras dan cinta tanpa batas. (dhi/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #SPPG #Mbg #Makan Bergizi Gratis