Radar Jember – Orang dengan HIV Aids (ODHA) masih dipercaya tak bisa diobati dan jumlahnya semakin bertambah.
Untuk itu, perlu penanganan yang efektif agar penyakit tersebut tidak terus menular.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim pada Februari lalu mencatat ada 229 kasus baru HIV di Jember.
Ini menempatkan Jember dengan 2,6 juta penduduk ada posisi tertinggi ketiga se Jatim.
Namun, data terbaru belum diketahui hingga berita ini ditulis kemarin (9/10).
Meski demikian, ancaman HIV sangat terbuka dan bisa mengancam siapa saja.
Seperti diketahui, penularan HIV/Aids bisa melalui beberapa macam.
Pertama, penyakit ini bisa menular karena melalui hubungan seks bebas, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta dari ibu hamil yang terinfeksi kepada bayinya saat kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, Akhmad Helmi Luqman mengatakan pihaknya cukup rutin melakukan sosialisasi dan skrining untuk mendeteksi dini kasus HIV.
“Jika ada temuan, kami langsung dampingi agar pasien segera menjalani pengobatan,” ujarnya, saat ditemui pada acara bakti sosial Rail Clinic, di Ledokombo.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit yang sulit terdeteksi itu, Dinkes juga menggandeng sejumlah komunitas, termasuk komunitas orang dengan HIV/AIDS (ODHA) .
Tujuannya, mendorong warga yang merasa berisiko untuk memeriksakan diri.
“Kami berharap keluarga maupun yang bersangkutan mau terbuka sehingga pengobatan bisa segera dilakukan,” lanjut Helmi.
Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Jember, Indi Naidha mengatakan, sebagian besar kasus HIV di Jember berasal dari warga yang pernah bekerja di luar daerah.
Oleh karena itu, dia meminta pemerintah hingga pemerintah desa dan kelurahan melakukan pemantauan dan pemeriksaan rutin pada warga terutama yang baru pulang dari rantau.
“Penting juga dilakukan sosialisasi mengenai hubungan yang sah serta penggunaan alat kontrasepsi yang benar,” katanya.
Indi juga menekankan pentingnya peran puskesmas dan pemerintah desa untuk lebih proaktif melakukan pemeriksaan masif.
“Kami sudah menyosialisasikan ke puskesmas-puskesmas agar serius menekan angka HIV, sekaligus memastikan pasien HIV mendapat perlakuan sama seperti pasien lainnya agar mental dan psikologisnya tetap terjaga,” ujarnya.
Politikus PDIP itu menilai tingginya angka kasus baru HIV tidak selalu berarti kabar buruk.
Menurutnya, angka tersebut justru mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam melakukan pencatatan dan deteksi dini.
“Semua daerah punya kasus HIV, hanya saja tidak semua memiliki pencatatan yang masif. Karena itu, angka yang terlapor sering kali lebih kecil dari kondisi sebenarnya,” pungkasnya. (yul/nur)
KASUS HIV/AIDS YANG PATUT DITANGANI:
Kabupaten/Kota Kasus HIV
Tertinggi ke-1 Kota Surabaya 368
Tertinggi Ke-2 Kabupaten Sidoarjo 270
Tertinggi ke-3 Kabupaten Jember 229
Tertinggi ke-7 Kabupaten Lumajang 164
Tertinggi ke-10 Kabupaten Situbondo 131
Tertinggi ke-12 Kabupaten Banyuwangi 119
Tertinggi ke-35 Kabupaten Bondowoso 67
SUMBER: BPS Jatim, Februari 2025.
Editor : Imron Hidayatullahh