Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bangunan Tiba-Tiba Runtuh? Ini Kata Ahli Sipil Unmuh Jember Soal Risiko Human Error

M Adhi Surya • Kamis, 9 Oktober 2025 | 13:15 WIB

KAWASAN KEPATIHAN: Sebuah gedung bertingkat harus dipastikan kekuatan fondasi dan tiangnya agar tidak runtuh. Apalagi, bangunan yang awalnya satu lantai kemudian dijadikan dua lantai atau lebih.
KAWASAN KEPATIHAN: Sebuah gedung bertingkat harus dipastikan kekuatan fondasi dan tiangnya agar tidak runtuh. Apalagi, bangunan yang awalnya satu lantai kemudian dijadikan dua lantai atau lebih.

Radar Jember – Tragedi robohnya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, menjadi peringatan keras bagi semua pihak.

Tak hanya bagi pengelola pondok, tapi juga warga yang berencana menambah lantai rumahnya, guna mencegah agar tidak terjadi musibah yang tak diinginkan.

Pakar teknik sipil Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Senki Desta Galuh, mengatakan, bangunan yang awalnya dirancang satu lantai memang bisa dikembangkan menjadi dua atau tiga lantai.

Namun, prosesnya tak sesederhana menumpuk bata di atas bata.

“Sejatinya menjadikan bangunan satu lantai menjadi dua atau tiga lantai sangat bisa, asal penguatan dasar bangunan harus dianalisis terlebih dahulu,” ujar jelasnya.

Analisis itu, kata Senki Desta, meliputi seluruh elemen struktur utama seperti fondasi, sloof, balok, dan kolom.

Keempat bagian ini merupakan tulang punggung kekuatan bangunan.

Jika salah satu di antaranya tidak dirancang untuk menahan beban vertikal tambahan, risiko kegagalan struktur bisa sangat besar.

“Kalau perencanaan awalnya hanya untuk satu lantai, lalu langsung dijadikan tiga lantai tanpa penguatan, itu seperti memaksa tubuh manusia berdiri dengan tulang yang tak seimbang,” ujarnya.

Risiko terbesar ketika bangunan satu lantai dipaksakan menjadi tiga tanpa perencanaan matang adalah keruntuhan struktur.

Dinding bisa retak, kolom patah, atau fondasi turun akibat beban berlebih.

Dalam kasus ekstrem, bangunan bisa ambruk, apalagi bila dikombinasikan dengan faktor cuaca, getaran, atau pengerjaan yang asal-asalan.

Senki Desta menambahkan, fondasi rumah satu lantai pada umumnya tidak dirancang untuk menahan beban hingga tiga lantai.

Artinya, perlu dilakukan uji tanah atau soil test dan analisis ulang daya dukung fondasi.

“Kalau hasilnya tidak memadai, fondasi lama sebaiknya dibongkar dan dibuat ulang. Karena percuma memperkuat bagian atas jika bawahnya rapuh,” ujarnya menegaskan.

Dari sisi regulasi, Indonesia sebenarnya sudah memiliki standar dan pedoman yang mengatur penambahan lantai pada bangunan eksisting.

Hal itu tercantum dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) serta peraturan bangunan gedung (PBG).

Menurutnya, dari pengalaman di lapangan, 88 persen kasus kerusakan atau robohnya bangunan disebabkan oleh kesalahan perencanaan alias human error.

Sementara 10 persen dipicu oleh bencana alam, dan sisanya 2 persen karena faktor di luar prediksi manusia.

“Jadi, kuncinya tetap di tahap desain awal. Kalau fondasi salah, bangunan setinggi apa pun akan rapuh,” pungkasnya. (dhi/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Unmuh Jember #Teknik Sipil #Al Khoziny #bangunan ambruk #Pesantren