Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Belum Semua Bisa Kembali Bekerja, Enam Perawat RSBS Jember Masih Jalani Terapi Pascakecelakaan Bus Bromo

Sidkin • Senin, 6 Oktober 2025 | 14:05 WIB
BERANGSUR PULIH: Tri Tokoh Putra (kanan), perawat RSBS yang menjadi korban laka bus maut di Probolinggo seusai menjalani operasi kepala. Tri sudah sadar dan bisa berjalan jarak dekat.
BERANGSUR PULIH: Tri Tokoh Putra (kanan), perawat RSBS yang menjadi korban laka bus maut di Probolinggo seusai menjalani operasi kepala. Tri sudah sadar dan bisa berjalan jarak dekat.

Radar Jember – Tiga pekan pascakecelakaan bus rombongan wisata RS Bina Sehat Jember di jalur wisata Bromo, proses pemulihan perawat yang menjadi korban terus berlangsung.

Dari 29 pegawai yang ikut, empat meninggal dunia dan 25 lainnya selamat.

Saat ini, ada enam perawat yang kondisinya masih menjalani pemulihan intensif.

Owner RS Bina Sehat Jember dr Faida mengatakan, para perawat itu belum sepenuhnya aktif bekerja.

Namun, pihaknya terus mendampingi mereka, baik secara medis, psikologis, maupun dukungan dari keluarga besar RS Bina Sehat.

Sehingga seluruhnya bisa kembali pulih dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Salah satu yang kondisinya cukup berat adalah Riyanti Elminingtyas, perawat IGD.

Riyanti mengalami patah tulang rusuk, lengan bawah kanan dan kiri, serta belikat.

Meski sudah mampu berjalan dan memegang benda ringan, dia masih belum bisa mengangkat tangan kanan sepenuhnya.

“Riyanti dijadwalkan menjalani kontrol lanjutan ke dokter spesialis pada Rabu besok dan dua pekan mendatang,” ujar Faida, Jumat (3/10).

Perawat lain, Seputih Gita, sempat menjalani operasi penyambungan tulang pangkal paha kanan.

Perawat Ruang Medik itu kini sudah bisa beraktivitas menggunakan kruk.

Namun, kakinya masih tidak boleh menapak hingga akhir Oktober.

Lalu, sebagian aktivitasnya sehari-hari masih dibantu keluarga.

Sementara itu, Tri Tokoh Putra, perawat ruang medik syaraf yang mengalami perdarahan otak, kini sudah mampu berjalan jarak dekat.

Selain itu Tri Tokoh mulai mengingat kejadian dan mengenali orang.

Komunikasinya berangsur membaik.

“Aktivitas masih dibantu oleh keluarga. Nanti kontrol ulang dua pekan lagi,” imbuhnya.

Di sisi lain, Eva Lia Sari, perawat ICU, yang menjalani operasi penyambungan tulang pergelangan tangan dan selangka kanan, masih harus mengenakan gips.

Itu untuk membatasi pergerakan tangan.

Eva dijadwalkan kontrol ulang pada 9 Oktober mendatang.

Kondisi serupa dialami Ikrima Laili, perawat IGD, yang baru menjalani operasi tulang lengan atas akibat patah terbuka.

Luka operasi Ikrima terkadang masih merembes.

Kemudian bengkak di tangannya sudah berkurang dan jari-jarinya mulai bisa digerakkan, namun belum cukup kuat untuk memegang benda.

Ada pula kabar lebih menggembirakan dari Tri Apri Widodo, perawat anestesi.

Pascaoperasi penyambungan tulang lengan bawah, kini ia sudah mampu memegang meski belum bisa mengangkat barang.

Tri bahkan kembali bekerja pada Sabtu (4/10) lalu.

“Penempatan di ruang operasi sebagai admin sekaligus perawat recovery room,” pungkasnya.

Penting diketahui, sebanyak 53 orang terdiri dari tenaga kesehatan (nakes) dan keluarga nakes RSBS menjadi korban laka maut bus di jalur wisata Bromo.

Setelah dari Bromo, bus itu mengalami rem blong di Desa Boto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Minggu (14/9).

Dalam kejadian itu, sembilan orang meninggal dunia.

Tiga di antaranya masih anak-anak. (kin/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #jalur wisata bromo #kecelakaan bus #RS Bina Sehat #rombongan bus #RSBS