Radar Jember - Penambang manual di Kali Mayang, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, kesulitan mendapatkan pasir.
Hal itu terjadi karena pasir sedikit, meskipun si sungai itu sempat banjir.
Seperti yang disampaikan Adi, 40, warga Dusun Krajan, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu dan Sanuri, 55, warga Desa Kesilir, Kecamatan Ambulu.
Dalam setengah hari, keduanya hanya bisa menaikkan pasir dari Kali Mayang satu rit pikap.
“Untuk mendapatkan pasir satu rit pikap harus berjam-jam di sungai,” katanya.
Dalam satu rit pikap harganya Rp 110 ribu.
Tetapi dalam sehari kalau kerja mulai pagi bisa mendapatkan dua rit pikap.
Sehingga dalam sehari bisa dua rit.
"Kalau sampai dua rit bisa mendapatkan uang Rp 220 ribu untuk dua orang," kata Adi.
Dikatakan, meskipun sungai sudah sempat banjir, tetapi pasirnya tetap sedikit.
“Penambang bukan hanya di satu tempat, tetapi di bagian hulu juga banyak yang menambang," katanya.
Dia berharap pasir bisa banyak lagi agar tetap bisa bekerja.
"Sekarang tidak sama dengan dulu, banyak orang membangun rumah sudah pesan pasir dari Lumajang. Tetapi yang namanya rezeki ada saja, masih ada orang yang bangun pesan pasir Kali Mayang," kata Adi bersama Sanuri, teman kerjanya.
Kalau sehari bisa mendapatkan dua rit, bisa membawa uang Rp 110 per orang.
Namun, pemesan kadang tidak hanya pakai pikap, melainkan truk, dengan harga lebih dari 110 ribu.
Sebab, ukurannya lebih besar dari ukuran pikap. (jum/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh