Radar Jember - Usianya masih muda, namun langkah Fabian di dunia DJ sudah melampaui sekadar hobi.
Dari belajar otodidak dengan alat pinjaman, ia kini menjelajah panggung Jember sambil menyiapkan diri menuju pentas lebih besar.
Kacamata bening melekat di wajahnya, memberi kesan sederhana namun tetap stylish.
Dengan gaya casual anak muda, Moch Fabian Ditriono tampak percaya diri saat berdiri di balik turntable.
Baca Juga: Bupati Fawait Minta ASN Jadi Duta Pariwisata, Gunakan Medsos untuk Promosikan Jember ke Dunia
Tangannya lincah menggeser-geser pengaturan suara, memadukan beat dan bass dengan penuh rasa.
Tidak ada yang menyangka, mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Jember itu baru berusia 20 tahun.
Pemuda asal Tegal tersebut memang tengah jatuh cinta pada musik DJ.
Bagi Fabian, dentuman musik bukan sekadar hiburan malam.
Ia melihat DJ sebagai seni yang bisa menyatukan banyak orang dalam kebahagiaan.
“Saya ingin orang melihat DJ sebagai karya seni, bukan sesuatu yang negatif,” ujarnya.
Rasa cinta itu lahir dari rasa penasaran.
Fabian kerap menyaksikan rekannya memainkan instrumen DJ hingga akhirnya mencoba sendiri.
Alat yang ia gunakan pun bukan milik pribadi, melainkan pinjaman dari teman, dari situlah ia berlatih otodidak, hingga makin akrab dengan dunia remix.
Setiap kali tangannya bergerak mengolah suara, Fabian merasa masuk ke ruang berbeda.
Suasana jadi lebih hidup, energi positif mengalir deras.
Terlahir di Kota Suwar-Suwir yang kental dengan musik tradisi ia justru memilih jalur berbeda lewat DJ modern sebagai media ekspresi diri.
Stigma negatif terhadap DJ sering didengar.
Banyak orang menilai musik ini identik dengan dunia malam.
Fabian memilih tidak terjebak pada pandangan itu, Ia justru menjawab dengan karya, tampil di berbagai acara di penjuru Jember.
Setiap panggung baginya memberi banyak pengalaman.
Melihat penonton bergoyang mengikuti beat remix yang ia mainkan, Fabian merasa perjuangannya tidak sia-sia.
Ia percaya, karya adalah cara paling ampuh untuk melawan prasangka.
“Kalau orang bisa menikmati tanpa curiga, berarti apa yang saya perjuangkan mulai berhasil,” katanya.
Kesibukan kuliah tidak membuatnya meninggalkan dunia musik.
Fabian berusaha menyeimbangkan keduanya.
Waktu luang akan dimanfaatkan untuk berlatih, meski sering harus kembali meminjam alat dari rekannya.
Tekadnya tetap sama, terus berkembang dan tidak berhenti belajar.
Impian Fabian kini semakin besar, Ia ingin melangkah lebih jauh, tampil di panggung nasional, bahkan internasional.
Dibalik kacamata bening seorang maba, lahir semangat untuk mengubah stigma dan menatap panggung yang lebih luas.
Musik DJ yang kerap dianggap sebelah mata ingin ia buktikan bisa menjadi karya membanggakan, membawa nama baik kampus dan kota kelahirannya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh