radar jember - PADA era yang serba modern, masih ada saja orang percaya pada hal yang mustahil. Seperti janji penggandaan uang atau menerima uang gaib.
Dosen Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember, Minan Jauhari menyebut, fenomena ini menunjukkan rendahnya literasi.
“Logika sehat seharusnya menolak hal semacam ini. Tapi kenyataannya, ada saja orang yang tergoda karena ingin cepat kaya,” kata akademisi yang di bidang sosial lintas budaya ini.
Menurutnya, kasus penipuan uang gaib tidak bisa dipandang sebatas tindak kriminal.
Ada dimensi sosial budaya yang membuat masyarakat masih percaya pada jalur instan yang dibungkus mistis.
“Pelaku tahu celah itu. Ia manfaatkan harapan semu dengan iming-iming ritual dan mahar,” jelasnya.
Minan menegaskan, agama maupun akal sehat tidak pernah mengajarkan rezeki datang secara tiba-tiba tanpa usaha.
“Rezeki itu jelas dari kerja keras, doa, dan ikhtiar. Bukan lewat praktik yang tak masuk akal,” tegasnya.
Ia melihat, kondisi ekonomi yang serba sulit kerap jadi pintu masuk penipuan.
Saat ada tawaran cepat kaya, sebagian orang mudah tergoda dan logika kritisnya tumpul.
“Desakan kebutuhan sering membuat orang gelap mata,” tambahnya.
Selain itu, warisan budaya mistis juga ikut berperan. Keyakinan pada hal-hal gaib masih diwariskan secara turun-temurun.
“Ketika tidak ada literasi kritis, mitos itu terus dipercaya. Pelaku hanya mengemasnya dengan bahasa modern, tapi intinya sama: meminta mahar,” papar Minan.
Ia menilai penipuan semacam ini bisa dicegah, jika masyarakat lebih aktif melakukan kontrol sosial.
Peran keluarga, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dibutuhkan untuk memberi peringatan dini.
“Kalau orang sekitar peduli, maka korban tidak akan sendirian menghadapi bujuk rayu pelaku,” tegasnya.
Kasus ini seharusnya jadi pengingat. Kalau ada yang meminta mahar dengan alasan ritual, tambahnya, harus langsung curigai. “Itu pola klasik penipuan,” paparnya.
Menurutnya, kasus serupa bisa terus berulang bila pola pikir tidak berubah. Di zaman modern seperti sekarang, mestinya tidak ada lagi orang percaya pada uang gaib, yang ada hanyalah penipuan. (dhi/dwi)
Editor : M. Ainul Budi