Radar Jember - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember terus menggencarkan kampanye kebersihan untuk mewujudkan target nasional Indonesia bebas sampah 2029 sesuai amanat SK Menteri LH dan Peraturan Presiden.
Upaya itu diyakini harus dimulai dari hal-hal kecil dan ditanamkan sejak dini kepada generasi muda.
Kepala DLH Jember, Suprihandoko, mengatakan momentum World Cleanup Day Indonesia (WCDI) yang dipusatkan di Alun-alun Ambulu (21/9) menjadi ajang penting untuk mengedukasi masyarakat, khususnya anak muda.
“WCDI di Jember rangkaiannya dimulai sejak Juli lalu dari JFC hingga puncaknya bulan ini. Konsepnya tidak hanya formalitas bersih-bersih, tapi bagaimana generasi muda benar-benar peduli akan kebersihan,” ujarnya.
Dalam rangkaian kegiatan itu, DLH juga menggelar edukasi di sekolah-sekolah dan forum group discussion (FGD).
Topik yang dibahas mulai dari bahaya sampah yang bisa memicu bencana, hingga bagaimana sampah bisa bernilai ekonomi.
“Tujuannya adalah bagaimana setiap individu bisa bertanggung jawab dengan sampahnya masing-masing,” imbuh Supri.
Ia menegaskan, penanaman kesadaran sejak anak-anak sangat penting.
Sebab pada usia itu, pola pikir dan kebiasaan lebih mudah diarahkan.
“Kalau sejak dini sudah terbiasa memilah sampah, menjaga kebersihan, maka konsep itu akan terbawa sampai dewasa. Harapannya, cita-cita Indonesia bebas sampah 2029 bisa tercapai,” tegasnya.
Seperti diketahui, Jember setiap hari memproduksi sekitar 1.300 ton sampah.
Dari jumlah itu, hanya 400–500 ton yang benar-benar masuk TPA sebagai residu.
Sisanya masih tercecer, bahkan ada yang berakhir di sungai.
Kondisi ini membuat DLH terus mendorong program bank sampah hingga TPS 3R di desa-desa.
Salah satu contoh sukses datang dari Bank Sampah Cakmat yang bahkan bisa menabung hingga 3 kilogram emas hasil pengelolaan sampah.
“Ini bukti kalau sampah bisa menjadi berkah, asal dikelola dengan baik,” kata Supri. (yul/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh