Radar Jember - Simpang empat Mangli menjadi salah satu area paling sibuk di Jember karena menjadi titik krusial penghubung berbagai wilayah.
Situasi kian pelik dengan keberadaan perlintasan sebidang di Jalan Udang Windu, Dusun Krajan, Desa Mangli, Kecamatan Kaliwates.
Letaknya yang bersinggungan langsung dengan arus padat kendaraan membuat JPL 139 Mangli dipertanyakan kelayakannya.
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember Cahyo Widiantoro menyoroti perlunya kajian bersama lintas pihak untuk menilai kembali fungsi perlintasan tersebut.
Menurutnya, intensitas kendaraan di kawasan ini terbilang tinggi sehingga risiko keselamatan juga meningkat.
“JPL 139 ini cukup ramai. Seharusnya bisa dipikirkan bersama dan dikaji bersama apakah masih layak menjadi perlintasan sebidang,” katanya.
Apalagi, lanjut Cahyo, norma dalam Undang-Undang Perkeretaapian secara tegas mengatur bahwa jalur kereta idealnya dibuat tidak sebidang.
Perlintasan sebidang hanya dibolehkan dalam kondisi darurat. Sementara, di Mangli justru kepadatan kendaraan terbilang tinggi.
“Kita lihat crowded di perlintasan ini cukup tinggi,” jelentrehnya.
Salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan yakni pembangunan flyover atau underpass.
Solusi itu dinilai mendesak, mengingat Kabupaten Jember termasuk wilayah dengan jumlah perlintasan sebidang terbanyak di Daop 9.
Dari total 311 titik perlintasan, ada 52 di antaranya yang tidak terjaga dan mayoritas berada di Jember.
Risiko kecelakaan pun tercatat cukup tinggi.
Selama 2025, sedikitnya ada 15 kejadian kecelakaan di perlintasan sebidang.
Empat kasus terjadi di Jember, jumlah yang sama di Banyuwangi, sementara paling banyak tercatat di Probolinggo.
Kondisi ini menegaskan bahwa mitigasi di titik rawan semacam Mangli tidak bisa lagi ditunda.
Untuk sementara, KAI bersama Dishub, kepolisian, dan komunitas pecinta kereta berupaya menekan risiko dengan menggelar sosialisasi keselamatan di JPL 139 kemarin (24/9).
“Kegiatan ini diharapkan meningkatkan kedisiplinan pengguna jalan agar lebih berhati-hati dan patuh terhadap rambu ketika melintas di perlintasan,” tutupnya. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh