Radar Jember – Ingatan peternak Jember pada masa merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) beberapa tahun lalu masih segar.
Ribuan ternak terancam, sebagian bahkan mati, membuat kerugian besar tak terhindarkan.
Meski kini kasusnya sudah mereda, Pemkab Jember memastikan kewaspadaan tak boleh longgar.
Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) dan Kesejahteraan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jember, drh Henry Kurniawan, menegaskan bahwa PMK tetap jadi perhatian serius.
“Waktu PMK merebak, dampaknya cukup berat bagi peternak. Karena itu sampai sekarang vaksinasi tetap kami lakukan sebagai bentuk antisipasi,” ujarnya.
Henry menyebut, pihaknya mendapat limpahan 1.800 dosis vaksin PMK jenis Bioaftogen dari Dinas Peternakan Jawa Timur.
Vaksin tersebut ditujukan untuk sapi agar memiliki kekebalan baik secara individu maupun kelompok.
Hingga pertengahan September, realisasi vaksinasi PMK di Jember sudah mencapai 100 persen.
Capaian ini, lanjut Henry, berkat kerja sama erat antara Dinas Peternakan, 12 unit puskeswan yang tersebar di Jember, serta partisipasi masyarakat.
Meski belum ada laporan ternak sakit, Henry tetap mengimbau peternak menjaga kebersihan kandang, memperhatikan pakan bergizi, dan memanfaatkan layanan kesehatan hewan.
“Kalau kandang bersih, pakan tercukupi, dan layanan keswan dimanfaatkan, ternak bisa tetap sehat meski musim hujan,” terangnya.
Baca Juga: Update Laka Lantas Jember: As Patah, Truk Box Terguling
Henry menjelaskan, penyakit yang kerap muncul di masa peralihan musim antara lain diare, bovine ephemeral fever (BEF) atau demam tiga hari, cacingan, hingga penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi.
“Bukan hanya manusia yang gampang sakit saat musim hujan, sapi juga,” katanya. (yul/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh