Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kondisi Korban Laka Bus Maut Bromo Membaik, RS Bina Sehat Jember Fokus Pulihkan Trauma Psikologis

Sidkin • Jumat, 19 September 2025 | 13:45 WIB

 

“Dari beberapa yang dalam kondisi psikologi berat dibantu dengan layanan hipnoterapi.” dr Faida, Owner RSBS.
“Dari beberapa yang dalam kondisi psikologi berat dibantu dengan layanan hipnoterapi.” dr Faida, Owner RSBS.
 

Radar Jember - Kondisi korban kecelakaan bus rombongan karyawan Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember di Jalur Wisata Bromo, Probolinggo, makin menunjukkan tren positif.

Dari total 53 korban, 29 di antaranya adalah karyawan rumah sakit.

Sebanyak 25 di antaranya telah mendapat perawatan, baik rawat jalan maupun rawat inap.

Hingga kemarin, hanya tersisa tiga orang yang masih dirawat inap.

Seluruhnya juga terus mendapatkan perawatan intensif. “Hari ini tersisa tiga korban yang masih dirawat inap di rumah sakit. Dua di ICU dan satu sudah pindah ke rawat inap biasa,” jelas owner RS Bina Sehat Jember, dr Faida, kemarin siang.

Meski kondisi fisik pasien mulai pulih, beban psikologis masih menjadi tantangan besar.

Seperti dialami perawat Riyanti yang tengah dirawat di ICU dengan kondisi patah tulang lengan kanan dan kiri, patah tulang iga kanan, serta dugaan cedera tulang dasar tengkorak.

Ia belum mengetahui bahwa anaknya telah meninggal dunia.

“Kami masih fokus agar Riyanti ini bisa pulih dulu. Serta beberapa yang tidak ikut dalam perjalanan ini pun memerlukan pendampingan psikologi,” tambahnya.

Kondisi emosional juga dirasakan oleh perawat Evalia Sari, koordinator keberangkatan rombongan.

Meski sudah menjalani operasi patah tulang, rasa bersalah dan kesedihan yang ia rasakan begitu mendalam.

“Meskipun sekarang sudah bisa pulang ke rumah, tapi mempunyai rasa bersalah dan rasa sedih yang luar biasa karena dia yang mengoordinasi keberangkatan teman-temannya,” terangnya.

Selain itu, ada pula dua perawat yang batal ikut rombongan karena memberikan tiket keberangkatan mereka kepada Hendra, cleaning service rumah sakit, beserta istri dan anaknya.

Nahas, Hendra dan keluarganya meninggal dunia.

Hal ini menimbulkan rasa bersalah yang berat pada kedua perawat tersebut.

“Meskipun ini satu niat baik dan semua itu adalah qadar Allah, tapi rasa bersalah dan rasa sedihnya luar biasa walaupun tidak termasuk korban kecelakaan,” jelasnya.

Sementara itu, pemulihan para korban kecelakaan bus rombongan RS Bina Sehat tidak hanya fokus pada fisik, tetapi juga pada kesehatan mental.

Trauma mendalam membuat sebagian besar penyintas membutuhkan pendampingan psikologis.

Termasuk mereka yang tidak ikut rombongan, namun tetap merasakan beban emosional.

Kepala Ruang Rawat Inap RS Bina Sehat Jember dr Tontowi Jauhari, menyampaikan pemulihan mental atau trauma healing diberikan kepada seluruh penyintas.

Menurut Tontowi, hal ini agar korban maupun tenaga kesehatan (nakes) yang terlibat dalam penanganan bisa kembali beraktivitas normal tanpa terbebani bayangan kecelakaan.

“Supaya mereka bisa beraktivitas seperti biasa, tanpa mengingat kejadian kemarin,” katanya.

Dia menambahkan, trauma tidak hanya dialami oleh para korban kecelakaan.

Akan tetapi juga dirasakan oleh tenaga medis yang dikerahkan membantu evakuasi di RS M. Saleh Probolinggo.

Pendampingan ini dilakukan oleh tim psikologi RS Bina Sehat, yang dibagi dalam beberapa rute untuk menjangkau pasien yang sudah pulang.

“Meskipun tidak semuanya, tetapi sebagian besar sangat memerlukannya. Seperti kondisi perawat Eva, karena dia itu koordinator pemberangkatan. Ada juga perawat Rianti yang ada di ICU dalam kondisi trauma sangat berat,” ungkap owner RSBS Jember, dr Faida, kemarin.

Dia menyebut, cukup banyak nakes yang bertugas dalam evakuasi juga mengalami tekanan batin.

Salah satunya adalah Ika Ayu yang mengoordinasi ambulans di lapangan.

Sebab, setelah menyelesaikan tugasnya, Ayu, juga menghadapi kesedihan yang perlu didampingi psikolog.

Untuk memperkuat pemulihan mental, RSBS menurunkan drg Abdul Rohim yang memiliki kompetensi dalam layanan hipnoterapi.

Metode ini diharapkan mampu mengurangi trauma berat, rasa bersalah, dan kesedihan yang dirasakan korban.

“Dari beberapa yang dalam kondisi psikologi berat dibantu dengan layanan hipnoterapi,” ujarnya.

Pendekatan yang dilakukan bukan hanya di rumah sakit, tetapi juga ke rumah-rumah pasien.

Hal itu sudah dimulai sejak Rabu (17/9) lalu.

Mereka yang sudah kembali ke masing-masing rumah didampingi oleh psikolog.

"Kami buat beberapa tim terpisah supaya lebih cepat menyelesaikan tugas ini,” tegasnya. (kin/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #jalur wisata #bromo #kecelakaan bus #RS Bina Sehat #RSBS