Radar Jember - Bukan sekadar seni dan hiburan, menari bagaikan nadi bagi perempuan bernama lengkap Najwa Ramadhani Putri Kamyoso.
Dia telah tumbuh di lingkungan tari sejak berusia lima tahun.
Kemudian, memasuki bangku SD, Najwa belajar menari melalui ekstrakurikuler.
Di rumah, dia juga mengikuti les tari modern.
Namun, seiring waktu berjalan hatinya lebih tertambat kepada tari tradisional.
Bagi Najwa tari tradisional bukan sekadar gerakan tubuh.
Di balik setiap gerakan terdapat cerita, filosofi, sekaligus pakem yang harus dijaga.
Dari situlah dia belajar disiplin, ketelitian, hingga kesabaran.
“Kalau tari modern lebih bebas, tari tradisional ada pakem yang tidak boleh dilanggar. Ini mengajarkan rasa hormat dan kepekaan,” ujarnya.
Kecintaannya Najwa terhadap seni tari tradisional terus ia pupuk hingga bangku SMA.
Namun kali ini dia memilih berlatih secara mandiri untuk mengingat dasar-dasar gerakan hingga detail kecil.
Bahkan ketika merasa sedih, ia mengaku kerap menjadikan menari sebagai cara menenangkan diri.
Hingga kini di bangku kuliah, rutinitas itu masih melekat.
“Berlatih menari itu bisa membuat saya tenang kalau sedang sedih atau banyak pikiran,” kata perempuan yang kini menjadi mahasiswa UIN KHAS Jember itu.
Tantangan terbesar bagi Najwa adalah menjaga konsistensi, di tengah minimnya minat generasi muda terhadap tari tradisional.
Banyak yang menganggapnya kuno dan sulit, sehingga tak banyak teman sebaya yang mau menekuninya.
Kendati demikian, hal itu membuatnya merasa perlu bertahan, meski berbeda, agar warisan budaya itu tidak semakin terpinggirkan.
“Karena tidak banyak peminatnya, jadi susah untuk menjaga semangat yang konsisten,” katanya.
Menurut Najwa, menekuni tari tradisional bukan hanya tentang menyalurkan hobi.
Lebih dari itu, Dia merasa turut berperan melestarikan warisan budaya leluhur.
Di tengah derasnya arus tren modern, Najwa ingin menunjukkan bahwa tari tradisional tetap hidup, relevan, dan patut dibanggakan.
“Tarian tradisional itu bukan sekedar seni atau hiburan, tapi warisan. Kalau generasi muda tidak ada yang peduli maka warisan itu akan hilang,” tutup Najwa. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh